Andrea cha FKIP Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Universitas Sriwijaya Palembang

Senin, 20 Februari 2012

Remidial passing bawah bola volly


REMIDIAL KETERAMPILAN PASSING BAWAH BOLA VOLI SISWA KELAS 8E SMPN 09 MALANG
Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Matakuliah Pengajaran Remidial
Yang dibina oleh Drs.Mardianto,M.Kes

Oleh:
Bambang Nudiansyah             108711415471


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
2011

KATA PENGANTAR

Segala puji kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat-Nya sehingga makalah pengajaran remidial ini dapat diselesaikan. Terimakasih pada semua, yang terlibat dalam pembuatan program ini. Ucapan terimakasih pertama kami ucapkan pada Bpk mardianto dan bapak Usman selaku dosen pembimbing mata kuliah Pengajaran Remidial ,  kesungguhan beliau yang selalu membina kami dalam mata kuliah pengajaran remidial, yang mana tanpa usaha yang baik, maka makalah ini tidak mungkin dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Tak lupa, terimakasih pada teman-teman  karena keterlibatannya dalam hal support, bantuan, informasi dll. Kami  berharap, makalah ini dapat diterima dengan baik. Kami juga akan lebih mengembangkan lagi hasil yang sudah  diperoleh. Semoga ridho Allah SWT selalu menyertai kita. Amien.
Malang, 05 Mei  2011
Penulis
DAFTAR ISI 
halaman

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………….
1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………………………..
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………
1.3 Pentingnya Pemecahan Masalah……………………………………………..
1.4 Keterampilan Passing Bawah Bola Voli
Siswa Kelas 8E SMPN 09 MALANG…………………………………………..
1.5 Ciri sisiwa yang memperoleh Kesulitan Keterampilan
Passing Bawah BolaVoli…………………………………………………………….
1.6 Sebab kesulitan passing bawah bola voli………………………………….
1.7 Alternative-alternatif pemecahan masalah………………………………..
1. Program Latihan keterampilan passing bawah bola voli
individual……………………………………………………………………………
2. Program Latihan Keterampilan passing bawah bola voli berpasangan
3. Latihan keterampilan passing bawah bola voli
kelompok kecil…………………………………………………………………….
BAB II KAJIAN PUSTAKA………………………………………………………………..
2.1 Sejarah permainan  bola voli…………………………………………………..
2.2 Jenis-jenis keterampilan bermain bola voli………………………………..
2.3 Tahapan  keterampilan passing bawah bola voli………………………..
2.4 Teknik latihan passing bawah bola voli……………………………………
BAB III PROGRAM LATIHAN SHOOTING BOLA VOLI………………….
3.1 PROGRAM LATIHAN INDIVIDUAL KETERAMPILAN
PASSING BAWAH BOLA VOLI……………………………………………..
3.1.1Rencana program latihan keterampilan
passing bawah bola voli individual…………………………………….
3.1.2 Pelaksanaan program latihan keterampilan
passing bawah bola voli individual…………………………………….
3.1.3 Evaluasi program latihan keterampilan
passing bawah bola voli individual…………………………………….
3.1.4 Pembahasan keberhasilan dan ketidakberhasilan latihan keterampilan passing bawah bola voli individual……………………………………………………………………….
3.2 PROGRAM LATIHAN INDIVIDUAL KETERAMPILAN PASSING BAWAH BOLA VOLI BERPASANGAN…………………………………………………………………….
3.2.1 Rencana program latihan keterampilan passing
bawah bola voli berpasangan…………………………………………….
3.2.2 Pelaksanaan program latihan keterampilan
passing bawah bola voli berpasangan…………………………………
3.2.3 Evaluasi program latihan keterampilan
passing bawah bola voli berpasangan…………………………………
3.2.4 Pembahasan keberhasilan dan ketidakberhasilan latihan keterampilan passing bawah bola voli berpasangan……………………………………………………………………
3.3 PROGRAM LATIHAN KELOMPOK KECIL………………………
3.3.1 Rencana program latihan keterampilan passing
bawah bola voli kelompok kecil………………………………………..
3.3.2 Pelaksanaan program latihan keterampilan
passing bawah bola voli kelompok kecil……………………………..
3.3.3 Evaluasi program latihan keterampilan
passing bawah bola voli kelompk kecil……………………………….
3.3.4 Pembahasan keberhasilan dan ketidakberhasilan latihan keterampilan passing bawah bola voli kelompok kecil………………………………………………………………..
BAB IV PENUTUP……………………………………………………………………………..
5.1 Kesimpulan………………………………………………………………………….
5.2 Saran…………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………..

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah dasar terfokus pada pengembangan aspek nilai-nilai dalam pertumbuhan, perkembangan dan sikap perilaku anak didik serta membantu siswa meningkatkan kesegaran jasmani dan kesehatan melalui pengenalan dan penanaman ikap positif serta melalui pengembangan gerak dasar dan berbagai aktivitas jamani.
Pendidikan jasmani dan kesehatan adalah suatu bagian dari penidikan keseruluhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan pengembangan jasmani, mental, sosial dan emosional yang selaras, serasi dan seimbang.
Permainan bola voli adalah permainan memantul-mantulkan bola oleh tangan atau lengan dari dua regu yang bermain di atas lapangan yang mempunyai ukuran-ukuran tertentu. Untuk masing-masing regu, lapangan dibagi dua sama besar oleh net atau tali yang dibentangkan di atas lapangan dengan ukuran ketinggian tertentu. Satu orang pemain tidak boleh memantulkan bola dua kali secara berturut-turut, dan satu regu dapat memainkan bola maksimal tiga kali sentuhan di lapanganya sendiri. Prinsip bermaina bola voli adalah menjaga bola jangan sampai jatuh di lapangan sendiri dan berusaha menjatuhkan bola dilapangan lawan atau mematikan bola di pihak lawan. Permainan dimulai dengan pukulan servis dari daerah servis. Bola harus diseberangkan ke lapangan lawan melalui atas net.
Menurut subroto (2007)
Untuk bisa bermain bola voli dengan baik, maka diperlukan beberapa keterampilan teknik dasar bermaian bola voli, yaitu: (1) Keterampilan dasar memantulkan dan mengoperkan bola, (2) Keterampilan dasar memukul bola, dan (3) keterampilan dasar membendung bola. Bola yang mudah dimainkan tidak selamanya datang dari teman seregu tetapi kadangkala juga datang dari lawan, namun pada umunya datang dari teman seregu.
Pada permainan bola voli harus diimbangi dengan kemampuan teknik dasar yang baik dan benar. Dalam mempelajari teknik dasar perlu pemahaman yang kuat terhadap langkah-langkah pembelajaran teknik dasar. Kenyataan di lapangan tidak seperti yang diharapkan. Pada siswa kelas 8E di SMPN 09 Malang pada saat dilakukan tes keterampilan passing bawah bola voli ternyata hasil yang diperoleh ada beberapa siswa yang nilainya kurang dari SKM yang telah ditentukan. Beberapa siswa mengalami kesulitan ketika melakukan tes. Kesulitan yang dialami yaitu  pada langkah-langkah melakukan keterampilan passing bawah bola voli dan koordinasi gerakan. Kebanyakan passing yang dilakukan kurang maksimal pada perkenaan bola di lengan dan tinggi bola tidak berada di atas kepala. Oleh karena itu, untuk memperbaiki hasil yang diperoleh, seorang guru harus memberikan remidi dengan sebelumnya memberikan program dan bentuk-bentuk latihan keterampilan passing bawah bola voli terhadap siswa  terutama yang mengalami kesulitan dalam melakukan passing bawah bola voli.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang diperoleh yaitu:
  1. Mengapa banyak siswa kelas 8E SMPN 09 Malang mengalami kesulitan pada saat melakukan tes keterampilan passing bawah bola voli?
  2. Bagaimana bentuk-bentuk program latihan yang dapat meningkatkan keterampilan passing bawah bola voli untuk siswa kelas 8E SMPN 9 Malang.
1.3  Pentingnya Pemecahan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas maka dapat diperoleh tujuan yaitu
  1. Untuk mengetahui mengapa banyak siswa kelas 8E SMPN 09 Malang mengalami kesulitan pada saat melakukan tes keterampilan passing bawah bola voli.
  2. Untuk  mendeskripsikan bagaiman bentuk-bentuk program latihan yang dapat meningkatkan keterampilan passing bawah bola voli.
1.4  Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Siswa Kelas 8E SMPN 09 Malang
Tes keterampilan passing bawah bola voli siswa Kelas 8E SMPN 09 Malang jumlah siswa yang mengikuti tes yaitu 22 siswa, dengan jumlah siswa laki-laki 14 siswa dan perempuan 8 siswa. Tes dilakukan secara individu dengan passing bawah dengan ketinggian di atas kepala dilakukan selama 1 menit.
Instrument Tes
Tujuan: tes yang dilakukan untuk mengukur keterampilan passing bawah bola voli
Alat yang digunakan: bola voli 4 buah, peluit 1 buah dan stopwatch 1 buah.
Petunjuk pelaksanaan:
  • Testee berada pada tempat yang disediakan dengan bola voli berada di depan.
  • Tes berjalan setelah tanda peluit dibunyikan kemudian stopwatch dijalankan.
  • Testee melakukan passing bawah bola voli dengan ketentuan ketinggian di atas kepala selama 1 menit.
Cara menghitung:
  • Testee melakukan passing bawah dengan benar berdasarkan teknik dasar passing bawah bola voli.
  • Passing bawah dengan ketinggian diatas kepala selama 1 menit.
Bola tidak dihitung apabila:
  • Bola tidak lebih di atas kepala.
  • Bola jatuh atau menyentuh lantai.
  • Bola dilambungkan ke atas tanpa mengunakan teknik yang benar.
Hasil Tes.
Tabel. Hasil Tes Keterampilan Passing Bawah Bola Voli
No.
Nama
Jenis kelamin
Passing Bawah dengan ketinggian di atas kepala
(1 menit)
1.   
2.   
3.   
4.   
5.   
    
    
    
    
    
    
    
    
    
    
    
    
    
    
    
1.5  Ciri-ciri Siswa yang Memperoleh Kesulitan Belajar Keterampilan Passing Bawah Bola Voli.
Pada saat  tes keterampilan passing bawah bola voli dilakukan pada siswa kelas 8E SMPN 09 Malang ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan. Ciri-ciri siswa yang mengalami kesulitan pada saat tes keterampilan bola voli dilakukan sebagai berikut:
  • Pada saat melakukan tes bola sering jatuh dan tidak lebih dari ketinggian di atas kepala.
  • Bergurau dan tidak serius pada saat melakukan tes
  • Perkenaan bola di lengan pada saat melakukan passing bawah bola voli.
  • Tubuh terlalu rendah karena pinggang ditekuk sehingga passing tidak tinggi.
  • Lutut tidak ditekuk pada saat melakukan passing bawah.
  • Ketika menerima bola lengan terlalu tinggi, kemudian lanjutan lengan berada di atas bahu.
  • Bola mendarat di lengan daerah siku dan perkenaan passing berada di ujung jari yang menggenggam.
  • Pada saat melakukan tes siswa cenderung panik dan tidak tenang.
1.6  Sebab Kesulitan Passing Bawah Bola Voli
Sebab-sebab siswa yang mengalami kesulitan pada saat melakukan keterampilan passing bawah bola voli adalah sebagai berikut:
  • Posisi kaki tidak membentuk sudut 45o yang bertujuan untuk menambah daya dorong tangan dan unutk mengontrol arah datangnya bola.
  • Lengan siku menekuk ketika melakukan passing bawah sehingga bola tidak maksimal lambung ke atas.
  • Posisi tangan tidak lurus, sejajar dan berporos pada bahu sehingga mempengaruhi gerakan bola, bola akan susah dikontrol dan mudah jatuh.
  • Perkenaan bola dengan tangan sehingga bola melenceng dan yang benar yaitu berada di atas pergelangan tangan dan dibawah ruas siku.
  • Tidak meregangkan kaki sejajar bahu dan lutut tidak ditekuk sehingga pantulan bola pada lengan bawah tidak bisa terarah dengan maksimal.
  • Ayunan tangan tidak dari bawah ke atas dengan tetap mempertahankan posisi awal sehingga posisi tangan berubah dan tidak sejajar.
1.7  Alternatif Pemecahan Masalah
Dari beberapa masalah, kesulitan dan sebab melakukan keterampilan tes passing bawah pada siswa kelas 8E SMPN 09 Malang di atas, menyebabkan nilai yang diperoleh oleh para siswa kurang dari nilai yang diharapkan guru. Maka dari itu dilakukan remidi untuk memperbaiki nilai-nilai yang kurang memuaskan. Sebelum dilakukan tes ujian keterampilan remidi, maka dilakukan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang diharapkan bisa membantu kesulitan para siswa. Alternatife-alternatif pemecahan masalah itu diantaranya bisa dilakukan dengan latihan keterampilan passing bawah bola voli individual dan latihan keterampilan passing bawah bola voli kelompok kecil.
  1. 1.        Latihan keterampilan passing bawah bola voli individual.
Latihan ini bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan passing bawah bola voli siswa yang bisa dilakukan secara individu tanpa harus menunggu ada lawan/teman latihan. Latihan individual ini dapat dilakukan sendiri dengan melakukan latihan teknik dasar tanpa bola dan menggunakan bola. Latihan tanpa menggunakan bola dapat dilakukan dengan mula-mula beridir kemudian jogging ke depan dan berhenti lalu memperagakan teknik dasar passing bawah dan seterusnya dilakukan secara kontinyu. Dan latihan dengan menggunakan bola dilakukan secara serius dan minimal latihan 3X dalam seminggu.
  1. 2.        Latihan keterampilan passing bawah bola voli kelompok kecil
Latihan ini bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan passing ketika berpasangan dengan lawan dan juga penting untuk meningkatkan kemampuan individu. Latihan ini dilakukan dengan beberapa orang yang membentuk kelompok kecil, sehingga saling membantu dan mengoreksi kesalahan satu sama lain.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Permainan Bola Voli
Permainan bola voli diciptakan oleh William G. Morgan pada tahun 1985. ia adalah seorang Pembina pendidikan jasmani pada Young Men Christian Association (YMCA di kota Holyoke, Massachusetts, Amerika Serikat. Nama permainan in semula disebut “Minonette” yang hamper serupa dengan permainan badminton. Jumlah pemain di sini tak terbatas sesuai dengan tujuan semula yakni untuk mengembangkan kesegaran jasmani para buruh di samping bersenam secara missal. William G. Morgan kemudian melanjutkan idenya untuk mengembangkan permainan tersebut agar mencapai cabang olahraga yang dipertandingkan. Nama permainan kemudian menjadi “volley ball yang artinya kurang lebih mem-volley bola berganti-ganti. Perkembangna permainan bola voli pada waktu itu di Amerika Serikat sangat cepat berkat usaha William G. Morgan. Tahun 1922 YMCA berhasil mengadakan kejuaraan nasional bola voli di Negara Amerika Serikat. Pada saat perang dunia I tentara-tenatra sekutu menyebarluaskan permainan ini ke Negara –negara Asia dan Eropa terutama negarea Jepang, Cina, India, Filipina, Perancis, Rusia, Estonia, Latvia, Ceko-slovakia, Rumania, Yugoslavia dan Jerman. Dalam perang dunia II permainan ini tersebar luas di seluruh dunia terutama di Eropa dan Asia.
Setelah perang dunia II prestasi dan popularitas bola voli di USA menurun, sedang di Negara lain terutama Eropa Timur dan Asia berkembang sangat cepat dan massal. Mengingat turnamen bola voli yang pertama (1947) di Polandia pesertanya cukup banyak, maka pada tahun 1948 I.V.B.F (international volley ball federation) didirikan yang beranggota 15 negara. Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dari negeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, di lapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belanda sendiri.
Permainan bola voli di Indonesia sangat pesat di seluruh lapisan mayarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah maka pada tanggal 22 januari 1955 PBVSI (persatuan bola voli seluruh indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional yang pertama. PBVSI sejak itu aktif mengembangkan kegiatan-kegiatan baik ke dalm maupun ke luar negeri sampai sekarang. Perkembangan permainan bola voli sangat menonjol saat menjelang Asian Games IV 1962 dan Ganefo I 1963 di Jakarta, baik untuk pria maupun untuk wanitanya.
Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II 1951 di Jakarta dan POM I di Yogyakarta tahun 1951. setelah tahun 1962 perkembangan bnola voli seperti jamur tumbuh di musim hujan banyaknya klub-klub bola voli di seluruh pelosok tanah air. Hal ini terbukti pula dengan data-data peserta pertandingan dalam kejuaran nasional. PON dan pesta-pesta olahraga lain, di mana angka menunjukkan peningkatan jumlahnya. Boleh dikatakan sampai saat ini permainan bola voli di Indonesia menduduki tempat ketiga setelah sepak bola dan bulu tangkis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbolavolian Indonesia, PBVSI telah dapat mengirimkan tim bola voli yunior Indonesia ke kejuaraan Dunia di Athena Yunani yang berlangsung dari tanggal 3-12 september 1989. tim bola voli yunior putra Indonesia ini dilatih oleh Yano Hadian dengan dibantu oleh trainer Kanwar, serta pelatih dari Jepang Hideto Nishioka, sedangkan pelatih fisik diserahkan kepada Engkos Kosasih dari bidang kepelatihan PKON (pusat kesehatan olahraga nasional) KANTOR MENPORA. Dalam kejuaraan dunia bola voli putra tersebut, sebagai juaranya adalah :
  1. Uni soviet
  2. Jepang
  3. Brazil
  4. Bulgaria
  5. Kuba
  6. Yunani
  7. Polandia
Sedangkan Indonesia sendiri baru dapat menduduki urutan ke 15. Dalam periode di bawah pimpinan ketua Umum PBVSI Jendral (Pol) Drs. Mochamad Sanusi, perbolavolian makin meningkat baik dari jumlahnya perkumpulan yang ada maupun dari lancarnya system kompetisi yang berlangsung, sampai dengan kegiatan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.
2.2 Jenis-jenis keterampilan Bermain Bola Voli
  1. 1.        Servis (untuk mengawali permainan)
Servis adalah pukulan pertama untuk mengawali permainan. Servis dilakukan dari daerah servis masuk ke bidang lapangan lawan melewati atas net. Pada awalnya servis hanya merupakan penyajian bola pertama untuk mengawali permainan. Dalam perkembangan bola voli modern, servis merupakan serangan pertama untuk memperoleh angka. Cara melakukan servis terentang dari mulai yang sangat sederhana hingga yang paling kompleks, dan dapat menyulitkan atau mematikan permainan lawan. Servis ada beberpa macam yaitu: servis bawah, servis atas, change-up servis dan jumping servis.
  1. 2.        Passing/umpan
Passing bawah adalah cara memainkan bola yang dating lebih rendah dari bahu dengan menggunkaan kedua pergelangan yang dirapatkan. Passing ini biasanya digunakan untuk memainkan bola yang dating dari lawan maupun dari kawan seregu, yang memiliki cirri sulit: misalnya bola rendah, cepat, keras atau yang datang tiba-tiba, namun masih dapat dijangkau oleh kedua tangan. Kadang kala passing bawah juga digunakan untuk memainkan bola ynag mementingkan ketepatan seperti passing dan umpan.
Passing atas adalah cara memainkanbola di atas depan dahi dengan menggunakan kedua jari tangan. Passing atas biasanya digunakan untuk memainkan boa yang datang baik dari lawan maupun dari kawan seregu, yang memiliki ciri melambung dan kecepatanya mudah diprediksi. Passing atas juga juga sering digunakan untuk memainkan bola yang mementingkan ketepatan seperti umpan spike dan tipuan ke lawan.
  1. 3.        Membendung/Blok (menghadang serangan)
Keterampilan ini sering digunakan dalam usaha mengahadang bola hasil pukulan (spike lawn di atas dekat net. Keterampilan ini sangat penting dimiliki setiap pemain, karena dalam permainan bola voli modern, kecepatan dan arah bola hasil pukulan spiker sudah terlalu sulit untuk dapat diprediksi oleh pemain bertahan. Tanpa ada bendunga para pemaina bertahan sangat sulit untuk mempersiapkan cara memainkan bola hasil pukulan spuker secara sempurna. Keterampilan ini jika dilakukan dengan baik akan merupakan taktik pertahanan dan sekaligus merupakan serangan balik yang paling efektif dan efisien. Spike yang terbedung dengan baik jarang sekali dapat ikembalikan, atau paling tidak sulit untuk dimainkan kembali, sehingga regu penyerang sulit melakukan persiapan serangan berikutnya secara sempurna. Begitu juga jika bola terbendung dengan sempurna, dengan tanpa melibatkan energy pemain lain, angka atau poin sudah dapat diraih.
  1. 4.        Smash/Spike (melakukan serangan)
Smash/Spike merupakan salah satu teknik serangan yang paling efektif selama permaiann. Bola dipukul di atas depan net yang mengakibatkan bola jatuh menukik tajam ke bidang lapangn lawan, sehingga lawan sulit mengembalikanya, bahkan sering langsung mematikan. Dewasa ini istilahspike lebih khusus digunakandalam permainan bola voli, karena cirri bola hasil spike menukik tajam seperti paku, sebagai akibat bola dipukul di atas dekat net. Sementara istilah smash lebih umum digunkan, karena cirri bola smash tidak begitu menukik karena bola dipukul jauh dari net.
Berdasarkan ketinggian bola umpa, spike terdiri dari spike bola tinggi atau open spikespike bola menengah atau cemi quick spike, dan spike bola pendek dan cepat atau quick spike.
2.3  Tahapan Gerakan Keterampilan Passing Bawah Bola Voli
  1. 1.        Sikap permulaan
  • Kaki ditekuk pada lutut
  • Telapak kaki keduanya melekat pada lantai dengan posisi yang sama.
  • Badan condong kedepan ± 90°.
  • Kedua tangan lurus kebawah serong kedepan.
  • Bidang perkenaan dibuat selurus mungkin.
  1. 2.        Sikap Perkenaan/Pelaksanaan
  • Bola diterima dari lawan dan dikembalikan.
  • Lurus dengan keadaan yang seimbang.
  • Ayunan tangan memukul keatas dan kedepan.
  • Perkenaan bola usahakan sejangkauan lengan dan gerakanpergelangan tangan aktif supaya bola berjalan top spin.
  1. 3.        Sikap akhir/Gerak lanjut
  • Setelah ayunan lengan mengenai bola, kaki belakang melangkah ke depan untuk kembali ke posisi siap untuk memainkan bola berikutnya.
2.4  Teknik Latihan Passing Bawah Bola Voli
  1. 1.        Latihan tanpa bola
  • Sikap badan membungkuk kaki dibuka dan lutut sedikit ditekuk.
  • Lengan dirapatkan satu dengan yang lain saling berpegangan.
  • Gerakan tangan diayun keatas dan kebawah.
Latihan ini berguna untuk melatih anak menerapkan tehnik-tehnik Passing Bawah pada permainan yang sebenarnya, ini dilakukan dalam waktu 15 menit.
  1. 2.        Latihan dengan bola ( modifikasi )
Anak saling berhadapan dengan yang lainnya, yang satu memberikan bola dan yang satu memberikan lagi menerimanya dengan Passing Bawah. Untuk melatih tehnik passing bawah ini penulis melakukan modifikasi mengenai bola, bola yang dipakai adalah bola plastik dan bola sebenarnya. Bola plastik digunakan penulis agar tangan anak tidak sakit dan supaya anak bersemangat dalam melakukan Passing Bawah.
  1. 3.        Latihan dengan net
Untuk melatih anak menggunakan tehnik Passing Bawah , maka penulis menggunakan net untuk mengetahui sebatas mana kemampuan anak dalam melakukan passing bawah. Latihan ini dengan cara melempar atau melambung bola, lalu anak berusaha mengambil bola tersebut dengan Passing Bawah dan usahakan bola melawati net atau melambung net.
  1. 4.        Latihan bermain hanya menggunakan Passing Bawah.
Untuk menetahui berhasil atau belum kita meningkatkan tehnik Passing Bawah pada anak, maka kita melakukan permainan yang sebenarnya tetapi menerima bola diharuskan dengan Passing Bawah.
BAB III
PROGRAM PEMBELAJARAN
Dari jumlah 21 siswa yang mengikuti tes keterampilan passing bawah bola voli kelas 8E SMPN 09 Malang, yang tidak memenuhi SKM yang diberikan guru yaitu 1 menit minimal mendapat skor 20 untuk putra dan 15 untuk putri adalah berjumlah 8 siswa. Sebelum mengikuti ujian remidi siswa yang mengalami kesulitan harus mengikuti beberapa program remidi latihan keterampilan  passing  bawah  bola voli yang meliputi program latihan individual, berpasangan, dan kelompok kecil. Dengan program latihan ini diharapkan keterampilan siswa meningkat dan pada tes remidi, siswa bisa mendapat nilai yang maksimal dan melebihi SKM nilai yang ditentukan guru.
3.1 Program Pembelajaran Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Individual
3.1.1 Rencana Program Pembelajaran Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Individual
Program Latihan pembelajaran secara individual bisa juga dilakukan dengan cara melakukan passing bawah bola voli tanpa menggunnakan bola. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  •  Siswa berdiri pada keadaan diam pada tempat yang di tentukan
  • Mendengarkan dan melakukan aba-aba yang diberikan oleh guru
  • Setelah mendengar aba-aba dari guru sebagai tanda mulai  jogging ke tempat yang ditentukan dan melakukan gerakan passing bawah bola voli dari sikap permulaan hingga sikap akhir atau lanjutan lakukan secara kuntinyu hingga tempat akhir yang ditentukan guru
  • Lakukan latihan ini dengan sungguh-sungguh dan benar selama 15 menit sehingga teknik passing bawah semakin baik.
start

Gambar 1. Alur  skema latihan
Keterangan:
  • No 1-4 melakukan gerakan passing bawah tanppa menggunakan bola
  • Arah panah: jogging
  • Jarak keseluruhan 13 meter
3.1.2 Pelaksanaan Program Pembelajaran Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Individual.
Setelah siswa belajar teknik passing bawah bola voli tanpa bola kemudian diberlakukan tes keterampilan dengan bola yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa yang mengikuti tes keterampilan terjadi peningkatan dan pemahaman tentang teknik dasar passing bawah bola voli. Pelaksanaannya sebagai berikut:
  • Siswa yang mengikuti program remidi latihan passing bawah bola voli dibagi menjadi 2 kelompok.
  • Siswa melakukan tes keterampilan passing bawah bola voli secara individual
  • Instrument tes yang dilakukan sama dengan instrument yang sebelumnya.
  • Siswa masing-masing melakukan tes dengan ketentuan passing bawah ketinggian di atas kepala selama 1 menit.
  • Jika bola jatuh siswa yang lain membantu memberikan bola yang lain.
3.1.3 Evaluasi Program Pembelajaran Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Individual
Ketika diberlakukan latihan individual seperti diatas,  setelah dilakukan tes bola masih sering menjauh tidak vertical dengan ketinggin tidak diatas kepala dan perkenaan bola pada lengan masih terdapat pada ujung tangan. Namun dengan dilakukan dengan frekuensi dan intensitas yang lebih banyak, kemajuan keterampilan siswa lebih meningkat dari sebelumnya. Serta membutuhkan banyak bola untuk lebih menyukseskan program ini, karena jika bola yang digunakan sedikit, kemungkinan besar siswa lebih banyak membutuhkan waktu untuk mengambil bola yang memantul jauh.
3.1.4 Pembahasan Keberhasilan dan Ketidakberhasilan Program Pembelajaran Passing Bawah Bola Voli Individual.
  • Keberhasilan Dari program latihan ini yaitu kemampuan siswa dalam melakukan gerakan teknik dasar passing bawah meningkat secara pemahan.
  • Ketidakberhasilan dari program ini yaitu siswa membutuhkan fasilitas bola yang cukup sehingga latihan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik.
3.2 Program Pembelajaran Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Secara Berpasangan
3.2.1 Rencana Pembelajaran keterampilam Passing Bawah Bola Voli Secara Berpasangan.
Untuk mengetahui berhasil atau belum kita meningkatkan teknik Passing Bawah pada siswa yang mengikuti ujian remidi, maka kita melakukan keterampilan passing bawah secara berpasangan dengan net di tengah menggunakan bola yang saling berhadan. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  • Siswa diberikan pasangan dengan ketentuan siswa yang setengah bisa dengan siswa yang kurang bisa.
  • Siswa saling berhadapan sesama kelompok dengan net di tengah
  • Siswa yang satu melambungkan bola dan yang lain menerima bola dengan passing bawah dengan ketentuan ketinggian di atas kepala dan melewati net.
  • Lakukan latihan secara kontinyu selama 10 menit.
Keterangan: no 1-4 melakukan passing dan mengumpan secara bergantian melewati net.


Gambar 2. Alur skema latihan
3.2.2 Pelaksanaan Pembelajaran keterampilan Passing Bawah Bola Voli Secara Berpasangan.
Setelah siswa belajar teknik passing bawah bola voli secara berpasangan kemudian diberlakukan tes keterampilan dengan bola yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa yang mengikuti tes keterampilan terjadi peningkatan tentang teknik dasar passing bawah bola voli. Pelaksanaannya sebagai berikut:
  • Siswa saling berhadapan sesama pasangan denga net di tengah.
  • Siswa saling bergantian melambungkan bola dan menerima bola dengan passing bawah dengan ketentuan melewati net.
  • Jika bola jatuh bola di ambil dan dilanjutkan lagi seperti semula.
3.2.3 Evalusi Pembelajaran keterampilan Passing Bawah Bola Voli Secara Berpasangan.
Pada saat pembelajaran keterampilan passing bawah bola dilakukan siswa yang mengikuti ujian remidi mengalami peningkatan secara gerakan dan perkenaan bola namun sikap lanjutan masih ada siswa yang kurang sehingga keseimbangan tubuh masih kurang.
3.2.1 Pembahasan Keberhasilan dan Ketidakberhasilan Pembelajaran keterampilam Passing Bawah Bola Voli Secara Berpasangan.
  • Keberhasilan, siswa mengalami peningkatan dalam teknik passing bawah bola voli dan perkenaan bola pada lengan sudah tepat sehingga passing bola dapat melebihi kepala dan tepat sasaran.
  • Ketidakberhasilan, siswa masih ada yang melakukan passing menyangkut di net meskipun teknik dasarnya mengalami peningkatan.
3.3 Program Pembelajaran Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Kelompok Kecil
3.3.1 Rencana Pembelajarann Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Kelompok Kecil
Untuk mengetahui berhasil atau belum kita meningkatkan teknik Passing Bawah pada siswa yang mengikuti ujian remidi, maka kita melakukan keterampilan passing bawah secara berpasangan dengan net di tengah menggunakan bola yang saling berhadapan.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  • Semua siswa dibagi menjadi 2 kelompok (1 dan 2).
  • Kelompok 1 mengumpan dengan melambungkan dan kelompok 2 menerima dan mengembalikan bola dengan passing bawah.
  • C melambbungkan bola ke A, A mengembalikan bola dengan passing bawah di atas kepala
  • Setelah C mengumpan langsung berlari ke barisannya yang paling belakang dan begitu juga dengan A
  • Dilakukan bergantian antara kelompok 1 dan kelompok 2


1             2

B       A                C         D


Gambar 3. Alur skema latihan
Keterangan:
AB-CD : saling bergantian mengumpan

3.3.2        Evaluasi Program Latihan Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Kelompk Kecil
Ketika dilakukan program latihan passing bawah secara kelompok seperti ini, tidak jarang masih juga ditemui beberapa siswa yang hanya melihat menunggu giliran bola. Siswa yang lebih bisa cenderung menguasai bola ketika dilakukan latihan berkelompok dan yang tidak bisa cenderung lebih banyak diam dan mengambbil bola. Di sisi lain siswa yang lebih bisa, bisa membantu teman-temannya yang belum bisa dengan memberikan umpan yang baik. Kerjasaman antar teman lebih meningkat sehingga nantinya bisa di aplikasikan dalam bentuk permainan tim.
3.2.4        Pembahasan Keberhasilan Dan Ketidakberhasilan Latihan Keterampilan Passing Bawah Bola Voli Kelompok Kecil
  • Keberhasilan, rata-rata kemampuan siswa meningkat, siswa bisa melakukan passing berpasangan dengan frekuensi bola jatuh lebih sedikit. Hampir semua siswa yang mengikuti program remidi mengalami peningkatan keterampilan passing bawah dan siswa saling membantu satu sama lain sehingga terjadi interaksi antara siswa.
  • Ketidakberhasilan, masih ada beberapa siswa (sebagian kecil) yang belum terlihat peningkatan keterampilanya. Dan masih ada siswa bergurau saat melakukan program latihan
BAB IV
PAPARAN DAN ANALISIS DATA

4.1 Pelaksanaan Praktik Tindakan Remedial
Setelah melakukan tes keterampilan passing bawah bola voli ditemukan  8 anak dari 21 siswa yang mengikuti tes yang belum memenuhi SKM sehingga diadakan remidi bagi siswa tesebut. Dibawah ini adalah daftar siswa yang nilainya kurang dari SKM.
Tabel 1.siswa yang mengalami ujian remidi
Nomor
Nama
Jenis kelamin
Hasil tes passing bawah (1 menit)
Urut
IND
19
9481
MOCH EKO CAHYONO
L
22
20
9483
MOCH LUTFI ZAKARIAH
L
20
21
9484
MOCH ANDREANSYAH
L
19
22
9494
NAOLA NADA
P
16
23
9500
NURRAHMA WATI
P
15
24
9505
PERTIWI SEKAR
P
9
25
9511
RANGGA DIO MAIDANU
L
15
26
9514
REGANATA FEBRI RAMADHAN
L
15
27
9518
RETNO MURIN LINTANG SARI
P
16
28
9592
RIFANDI  AP
L
26
29
9528
RISKA DIAN RUSPITA
P
14
30
9536
RIAN TRI ZULIARDI
L
23
31
9538
SABILLAH ANYA TAMARA
P
18
32
9543
SANDIKA MULANA
L
19
34
9546
SETIAWATI YULANDARI
P
15
35
9593
SINTA M.F
P
17
36
9561
TALITA ZHAFIRA
P
20
37
9567
ULIN AZMI
P
13
38
9571
FIFI NUR WAHYUNI
P
12
39
9584
YUDHA DWI PRASTYIO
L
27
40
9585
YUDHAS WARDANA MAHARDIKA
L
16

Setelah diketahui siswa yang tidak memenuhi SKM yang telah ditentukan siswa tersebut diberlakukan tindakan remedial. Sebelum itu siswa diberikan program latihan untuk mengasah kemampuan keterampilan passing bawah bola voli dan setalah dilakukan tes remidi siswa tersebut mengalami peningkatan yang cukup baik. Di bawah ini merupakan siswa yang telah mengalami peningkatan pada saat tes remidi berlangsung yaitu sebagai berikut:
Table 2. siswa setelah melakukan ujian remedial
Nomor
Nama
Jenis kelamin
Hasil tes remidi
Passing bawah
Urut
IND
24
9505
PERTIWI SEKAR
P
16
25
9511
RANGGA DIO MAIDANU
L
20
26
9514
REGANATA FEBRI RAMADHAN
L
21
29
9528
RISKA DIAN RUSPITA
P
18
32
9543
SANDIKA MULANA
L
24
37
9567
ULIN AZMI
P
15
38
9571
FIFI NUR WAHYUNI
P
15
40
9585
YUDHAS WARDANA MAHARDIKA
L
20
4.2       Motivasi belajar siswa
Pada saat melakukan pembelajaran keterampilan passing bawah bola voli siswa seharusnya diberi motivasi yang lebih oleh guru sehingga siswa tersebut dalam mengikuti pembelajaran aktif dan berminat dalam pembelajan keterampilan passing bawah bola voli. Motivasi tersebut bias berupa ucapan terhadap siswa yang dapt melakukan dengan baik gerak dasar teknik passing bawah. Dan dapat pula dengan pemberian hadiah terhadap siswa yang dapat lulus dalam pembelajaran passing bawah sehingga siswa berpacu satu sama lain untuk lulus dalam pembelajaran keterampilan passing bawah bola voli.
Pada saat pembelajaran keterampilan passing bawah bola voli di Kelas 8E SMPN 09 Malang siswa masih kurang motivasinya sehingga masih ada siswa yang kurang memenuhi SKM sehingga diberlakukan ujjian remidi terhadap siswa tersebut.
4.3       Aktivitas belajar siswa
Aktivitas belajar siswa seharusnya diperhatikan dalam pembelajaran. Guru harus memahami setiap siswa dalam aktivitas belajarnya. Dengan adanya saling interaksi guru-siswa yang baik diharapkan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan sukses. Aktivitas belajar siswa pada pembelajaran keterampilan passing bawah bola voli  di Kelas 8E SMPN 09 Malang masih kurang kondusif banyak siswa yang bergurau saat pembelajaran berlangsung sehingga pemahaman terhadap gerakkan teknik dasar passing bawah bola voli kurang dapat dipahami secara benar baik sikap awal hingga siakp lanjutan ataupun akhir.
4.4       Hasil belajar siswa
Hasil dari belajar siswa pada analisi data di atas pada pembelajaran keterampilan passing bawah bola voli pada siswa yang mengikuti tes keterampilan kelas 8E SMPN 09 Malang ada beberapa yang kurang memenuhi SKM sehingga harus diberlakukan ujian remidi dan sebelum ujian diberlakukan siswa harus mengikuti program latihan yang telah disusun oleh guru sehinggga sisa yang mengalami kesulitan belajar dapat diatasi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada saat ujian remidi diberikan sebelum itu siswa harus diberikan program-program latihan terlebih dahulu sehingga pada saat siswa melakukan tes remedial siswa dapat melakukan dengan baik. Dan diberikan alternatif pemecahan masalah sehingga kesulitan-kesulitan yang di alami siswa dapat diatasi. Beberapa program latihan yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut:
  • Program latihan secara individu tanpa menggunakan bola
  • Program latihan secara berpasangan dengan media net
  • Program latihan secara berkelompok kecil dengan media net
5.2 Saran
  • Siswa
    • Siswa dituntut untuk cenderung selalu dan lebih aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Melakukan latihan-latihan baik secara individu maupun membentuk kelompok kecil tanpa harus menunggu perintah dari guru. Melakukan latihan baik di luar jam sekolah.
    • Guru
      • Dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, guru pendidikan hendaknya dapat memotivasi siswa agar lebih kretif dan meningkatkan kemampuannya , khususnya dalam permainan bola voli. Selain itu juga guru harus membimbing da mengarahkan siswa dalam meningkatkan keterampilannya dalam teknik passing bawah bola voli, dan yang paling penting adalah cara guru mengembangkan metode pembelajaran agar timbul kegairahan siswa untuk belajar,kemudian hendaknya sisw lebih giat belajar lagi.
DAFTAR PUSTAKA 
Subroto, Tato dkk.2007. Permainan Besar (bola voli dan sepak bola). Jakarta:Depdiknas.
Bainil. 2003/2004.hubungan kekuatan otot Lengan dengan Kemampuan Passing dalam Permainan Bola Voli. Skripsi (tidak dipublikasikan).
Setiawan,Deni.2010. Sejarah Bola Voli, (online),(http://deni_pjkr.blogspot/sejarah bola voli )( diakses 5 januari 2010).

CONTOH PTK Penjaskes SD


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia, hasil yang diharapkan itu akan dapat dicapai dalam waktu cukup lama. Oleh karena itu, jasmani dan olahraga terus ditingkatkan dan dilakukan dengan kesabaran dan keikhlasan. Hal ini tentu diperlukan suatu tindakan yang mendukung terciptannya pembelajaran yang kondusif.
Pengamatan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran permainan Bola Voli di beberapa sekolah, menunjukkan bahwa banyak ditemukan masalah, kurangnya penguasaan ketampilan tehnik, maka perlu diajarkan secara mendalam tentang tehnik dasar permainan bola voli.
Sehubungan dengan masalah itu terutama Passing, anak didik perlu diajarkan macam-macam Passsing. Sesuai dengan perkembangannya, Passing dalam permainan bola voli dikenal ada tiga, yaitu:Passing Bawah, Passing Samping, dan Passing Atas, akan tetapi Passing Bawah yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi ( menurut Bainil ).
Berdasarkan dari hal itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “ Upaya Mengatasi Kesulitan pada Passing Bawah “, karena pada hal ini sangat penting dicari solusinya.
B. Pembatasan Masalah
Untuk membatasi ruang lingkup penelitian penulis membatasi masalah sebagai berikut :
1. Upaya meningkatkan ketrampilan tehnik Passing Bawah dalam permainan bola voli.
2. Upaya meningkatkan Passing Bawah ini khusus untuk siswi pada kelas ........... SD Negeri .................................

C. Rumusan Masalah
Untuk membatasi ruang lingkup penelitian, maka penulis membuat masalah yang akan dibahas pada laporan ini dibatasi beberapa rumusan masalah antara lain sebagai berikut :
1. Faktor apakah yang menyebabkan anak kesulitan melakukan Passing Bawah ?
2. Bagaimana cara mengatasi kesulitan anak melakukan Passing Bawah pada permainan bola voli di kelas V SD Negeri 06 Giri mulya?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
• Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi pengajaran Passing Bawah bola voli di kelas .... SD .................
2. Mengetahui faktor – faktor yang menghambat penguasaan Passing Bawah bola voli yang baik dan benar pada siswa kelas ... SD ...................
3. Mencari cara mengatasi masalah yang dihadapi siswi kelas........ SD ...................
4. Memperoleh pengalaman dalam menyelenggarakan penelitian sederhana.
• Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru, peneliti, dan bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu SD ...................................
a. Siswi
• Siswa dapat mengetahui betapa pentingnya permainan bola voli.
• Siswa dapat melakukan tehnik Passing Bawah dalam permainan bola voli.
b. Guru
• Sebagai bahan masukan dan menambah ilmu pengetahuan dari tehnik passing Bawah dalam permainan bola voli.
• Meningkatkan kualitas kemitraan antara sekolah dengan ekstern sekolah.
c. Penulis
• Untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam melakukan tehnik Passing Bawah dalam permainan Bola Voli.
• Sebagai bahanperbandingan antara ilmu yang didapat dari lembaga dengan yang didapat dari lapangan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Sejarah
Permainan bola voli di ciptakan oleh William .G. Morgan pada tahun 1895. Ia adalah seorang pembina Pendidikan Jasmani pada Young Men Christian Association (YMCA). Di Kota Hal Yake, Massachusetts, AS. Mengingat Turnamen Bola Voli pertama ( 1947 ) di Polandia pesertanya cukup banyak, pada tahun 1948 IVBF ( International Volley Ball Federation ) didirikan oleh 15 negara.
Indonesia mengenal bola voli sejak tahun 1928 pada zaman penjajahan Belanda, kemudian pada tanggal 22 Januari 1955 PBVSI ( Persatuan Bola voli Seluruh Indonesia ) didirikan dan juga pertadingan bola voli masuk secara resmi dalam PON II 1951 di Jakarta dan POM I di Yogyakarta.
Indonesia pertama kalinya dalam sejarah pervolian Indonesia PBVSI mengirimkan Tim Bola Voli Yunior ke juaraan dunia di Athena, Yunani dari 3 – 12 September 1989, yakni melatih tim tersebut adalah Yano Hadian dibantu oleh Traimer Kanwar serta pelatih dari Jepang Hideto Mishaka.
2. Pengertian Bola Voli
Bola voli adalah suatu bentuk permainan yang dimainkan dua regu berjumlah 6 orang dengan tujuan mematikan bola di daerah lawan.
Tehnik adalah suatu proses membuktikan dalam praktek dengan sebaik mungkin dalam cabang bola voli. Adapun ketrampilan tehnik sebagai berikut :
a. Servis ( untuk mengawali permainan )
b. Passing ( menerima bola )
c. Umpan ( menyajikan bola )
d. Spike ( melakukan serangan )
e. Bendung ( blok atau menghadang serangan )
f. Receive ( menjaga bola menyentuh lantai )
Tujuan utama melakukan passing bawah adalah mempercepat laju bola dan jalannya bola laju kencang dari bawah ke atas. Tehnik passing bawah meliputi :
a. Sikap permulaan
- Kaki ditekuk pada lutut
- Telapak kaki keduanya melekat pada lantai dengan posisi yang sama.
- Badan condong kedepan ± 90°.
- Kedua tangan lurus kebawah serong kedepan.
- Bidang perkenaan dibuat selurus mungkin.
b. Sikap perkenaan
- Bola diterima dari lawan dan dikembalikan..
- Lurus dengan keadaan yang seimbang.
- Ayunan tangan memukul kkeatas dan kedepan.
- Perkenaan bola usahakan sejangkauan lengan dan gerakan pergelangan tangan aktif supaya bola berjalan top spin.
c. Sikap akhir
Sikap perkenaan bola gerakan dilanjutkan dengan langkah kedepan atau kebelakang dan pandangan kearah bola.
3. Perkembangan bola volly
Dalam perkembangannya, sekarang permainan bola voli telah menjadi olahraga kompetitif resmi yang selalu diperlombakan dalam setiap pesta olahraga. Orientasi pembinaannya lebih mengarah pada pencapaian prestasi, akan tetapi nilai rekreasi tidak akan hilang bahkan akan selalu meningkat.
4. Bentuk –bentuk Latihan
a. Latihan tanpa bola
- Sikap badan membungkuk kaki dibuka dan lutut sedikit ditekuk.
- Lengan dirapatkan satu dengan yang lain saling berpegangan.
- Gerakan tangan diayun keatas dan kebawah.
Latihan ini berguna untuk melatih anak menerapkan tehnik-tehnik Passing Bawah pada permainan yang sebenarnya, ini dilakukan dalam waktu 15 menit.
b. Latihan dengan bola ( modifikasi )
Anak saling berhadapan dengan yang lainnya, yang satu memberikan bola dan yang satu memberikan lagi menerimanya dengan Passing Bawah. Untuk melatih tehnik passing bawah ini penulis melakukan modifikasi mengenai bola, bola yang dipakai adalah bola plastik dan bola sebenarnya. Bola plastik digunakan penulis agar tangan anak tidak sakit dan supaya anak bersemangat dalam melakukan Passing Bawah .
c. Latihan dengan net
Untuk melatih anak menggunakan tehnik Passing Bawah , maka penulis menggunakan net untuk mengetahui sebatas mana kemampuan anak dalam melakukan passing bawah. Latihan ini dengan cara melempar atau melambung bola, lalu anak berusaha mengambil bola tersebut dengan Passing Bawah dan usahakan bola melawati net atau melambung net.
d. Latihan bermain hanya menggunakan Passing Bawah.
Untuk menetahui berhasil atau belum kita meningkatkan tehnik Passing Bawah pada anak, maka kita melakukan permainan yang sebenarnya tetapi menerima bola diharuskan dengan Passing Bawah.
B. Kerangka Berfikir
Permainan bola voli selalu identik dengan permainan laki-laki karena permainan ini memerlukan olah fisik yang tinggi, dalam melakukan berbagai tehnik khususnya Passing Bawah, karena itu kurang diminati wanita. Permainan ini biasanya digemari oleh siswa, sedangkan siswi cederung kurang mengemari. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor seperti, kekuatan dan kelincahan . untuk itu agar masalah ini dapat teratasi maka penulis berupaya melakukan berbagai cara yang relevan untuk untuk meningkatkan tehnik passing bawah dalam permainan bola voli pada siswi melalui latihan intensif dan kondusif. Pemberian motivasi dan penguatan serta tidak lupa memperhatikan porsi latihan dengan perkembangan fisik dan psikis siswi.

BAB III
PELAKSANAAN PENELTIAN

A. Metode Penelitian
1. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode Tindakan Kelas ( Action Research)
2. Rencana penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tindakan yang didalam nya terdapat empat tahp kegiatan yaitu : perencanaan , pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi ( Kurt Lewis ; dalam Rochiati 2006) : keempat fase dari siklus PTK ini adalah :
Perencanaan
Refleksi Tindakan
Pengamatan

a. Tahap perencanan
Suatu perencanaan yang baik hendaknya memenuhi dua kriteria utama penelitian :
- Peneliti memahami perencanaan penelitian tersebut dengan baik.
- Perecanaan disusun untuk mempermudah penelitian tindakan tersebut.
b. Tahap observasi
Merupakan tahap pengamatan terhadap proses atau hasil pembelajaran bola voli pada kelas atau siswi yang menjadi objek. Prosedur ini dilakukan untuk mendapatkan data penelitian yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.
c. Tahap refleksi
Tahap refleksi ini peneliti mengkaji , meihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan dengan menggunakan berbagai kriteria. Berdasarkan hasil reflesi ini peneliti bersama-sama rekan guru dapat merevisi untuk memperbaiki Penelitian Tindakan Kelas.
d. Evaluasi
Siswi diberi evaluasi atau latihan dalam meningkatkan ketrampilan Passing Bawah.

B. Pelaksanaan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini peniulis melakukan penelitian :
1. Tahap pelaksanaan tindakan pertama pada hari selasa 7 September 2010 dan tahap kedua pada hari selasa 21 September 2010.
2. Tempat pelaksanaan di SD Negeri 06 Giri mulya.

C. Alat Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Penulis melihat secara langsung tentang keadaan atau kondisi siswi SD ..........................
b. Wawancara
Peneliti menggali informasi dengan berkomunikasi lansung dengan siswi SD .................. tentang kebiasaan siswi menggunakan passing.
c. Evaluasi atau Tes
Pengumpulan dengan berbagai cara evaluasi agar peneliti mengetahui sejauh mana kemampuan siswi dalam menguasai passing bawah yang disesuaikan fakta yang ada dilapangan.

D. Analisis Data
Setelah data diperoleh terkumpul, maka data tersebut di dengan membandingkan data – data yang telah didapat terhadap hal – hal yang berkaitan dengan penelitian guna mendapatkan informasi yang baik dan mudah dipahami, kemudian hasil dari metode – metode diatas dilakukan evaluasi atau tes.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SD Negeri 06 Girimulya yang terletak di Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Letak dan suasana SD cukup strategis yang cukup kondusif untuk melakukan proses belajar mengajar.
Dari segi fisik, bangunan SD ini cukup baik, walaupun ada beberapa gedung atau ruangan yang belum tersedia. Seperti Ruang guru dan perpustakaan. SD ini terdiri dari 9 ruangan, 6 ruag kelas, 1 ruang guru dan kepala sekolah ,ruang UKS, 1 gudang merangkap dapur, 1 WC guru da 1 WC siswa.
Jumlah murid di SD ini tergolong sedang untuk ukuran pedesaan, yaitu berjumlah 67 siswa. Mengenai sarana dan prasarana yang dapat medukung kegiatan olahraga yang tersedia di SD ini tergolong lengkap, khususnya untuk sarana bola voli yaitu : 1 lapangan boal voli, 2 buah net dan 2 buah bola voly. Ini adalah gambaran singkat tentang kondisi SD .........................

SIKLUS I
1. Perencanaan Tindakan
Ada beberapa perencanaan tindakan pertama yaitu :
a. Memilih siswa yang akan ikut dalam latihan tehnik Passing Bawah.
b. Mempersiapkan perangkat belajar mengajar,seperti : bola,net,dan lain –lain.
c. Melakukan pre-tes dengan tehnik passsing bawah.
2. Pelaksanaan Tindakan I
a. Waktu pelaksanaan tindakan atau latihan : ........................ dan ......................, ...........................
b. Tempat pelaksanaan : SD .................................
c. Kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan rencana kegiata, yaitu :
- Melakukan pre-tes selama 10 menit untuk memotivosi siswi menerima pelajaran atau latihan.
- Menjelaskan tehnik Passing Bawah dalam permainan bola voly.
- Guru membimbing siswi dann memberikan bantuan kepada siswi yang memmbutuhkannya.
- Guru mengadakan evaluasi.
3. Observasi Tindakan I
a. Kondisi pengajaran bola voli pada kelas V SD ............................... sebelumnya.
Pelaksanaan kegiatan bola voly pada kelas V terlihat kurang aktif. Sebelumnya guru hanya menyajikan pokok bahasan yang tercantum dalam kurikulum, sementara kurikulum sendiri tidak terdapat pokok bahasan permainan bola voli.
Disamping itu juga kurang mengaktifkan program ekstra kulikuler untuk memberikan pedalaman materi yang perlu di ajarkan di jam luar sekolah, khususnya pada permainan bola voli yang sangat memerlukan waktu latihan yang cukup lama.
Selain itu juga lingkungan tempat siswi pun sering diadakan permainan bola voli pada sore hari, akan tetapi sayang nya jarang sekali melibatkan siswi.

Dengan menggunakan metode wawancara, penulis mengadakan tanya jawab kepada orang tua / wali murid mengapa anaknya tidak di ikutkan pada program ekstrakulikuler, orang tua menjawab, kemauan anak itu sediri yang kurang tertarik pada perminan bola voli karena memang butuh waktu lama untuk menguasainya.
b. Faktor yang menghambat penguasaan tehnik Passing Bawah bola voli siswi kelas ......... SD ........... ada beberapa faktor, yaitu :
- Faktor kekuatan
Disini masih banyak yang belum mampu menyebrangkan bola dikarenakan belum begitu kuat untuk menahan pukulan bola dari tempat lawan dan ditambah lagi kurangnya tehnik yang cepat.
- Faktor tehnik
Dilihat dari segi tehnik Passing Bawah siswi masih banyak melakukan kesalahan :
1. Sikap permulaan
- Kaki masih dalam keadaan lurus dan sejajar jarak antara kedua kaki masih terlalu lebar.
- Sikap badan belum terlalu condong kedepan, pada tahap ini akan menyebabkan kurangya keleluasaan untuk bergerak pada saat menerima bola.
2. Sikap perkenaan
Disini siswi terlalu sering melakukan kesalahan yang cukup merugikana dan fatal :
- Siswi masih mereasa takut menerima bola sehingga keseimbangan hilang.
- Ayunan tangan masih kaku, sehingga tubuh siswi ikut bergerak tidak tertur.
Disini siswi belum percaya diri untuk menyebrangkan bola, sehingga siswi menerima bola dan berusaha mengembalikan dengan sekuat-kuatnya sehingga bola tidak terarah baik.
3. Sikap akhir
Sikap akhir ini siswi masih menunggu ditempat dan terpaku pandangannya kearah bola, karena kurang percaya diri dan masih takut menerima bola.
- Pada saat perkenaan dengan bola
Sehubugan dengan kesalahan –kesalahan diatas pada saat perkenaan dengan bola terlalu kaku atau takut sehingga menghasilkan bola terlalu melambung tinggi dan tidak terarah net tempat lawan.

4. Refleksi Tindakan I
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan pertama siswi masih lamban menerima penjelasan guru tentang Passing Bawah yang benar. Dalam mengatasi masalah ini SD.............. khususny di kelas ............ yaitu dengan cara guru sebaiknya menerapkan perpaduan sikap tehnik Passing Bawah yang sebenarnya kepada siswa dan menjelaskan fungsi sikap tersebut., supaya siswi lebih memahami dan dapat melakukan tehnik Passing Bawah dengan baik dan benar.
Selain itu guru juga dapat melakukan penambahan jam pelajaran atau ekstrakulikuler yang sebaiknya minimal 2 kali semingggu. Disini maksudnya agar anak lebih banyak mencoba dan dapat melihat masalah tersebut agar anak terbiasa menggunakan Passing Bawah yang akhirnya dapat bermain Voli yang baik dan benar sesuai dengan tehnik-tehnik permainan.
SIKLUS II
1. Perencanaan Tindakan II
Ada beberapa yang harus di persiapkan oleh peneliti pada tahap ini, antara lain :
a. Mempersiapkan perangkat kegiatan belajar mengajar
b. Mengadakan apresiasi dengan memotivasi siswi.
c. Menjelaskan tehnik Passing Bawah yang benar.
d. Memberi kesempatan kepada siswi untuk bertanya menuangkan ide nya.
e. Melakukan praktek dengan membimbing anak secara individual.
f. Mengadakan evaluasi.

2. Tahap Tindakan II
a. Waktu pelaksanaan : waktu pelaksanaan tindakan tahap kedua ini dilakukan pada tanggal .............................
b. Tempat pelaksanaan : SD ........................
c. Kegiatan belajar mengajar :
- Memberikan motivasi kepada anak agar semangat didalam latihan.
- Memberikan kepada siswi untuk praktek sendiri.
- Guru menjelaskan kembali tehnik Passing Bawah yang baik dan benar.
- Guru membimbing siswi dalam mempraktikkan tehnik Passing Bawah.
d. Kegiatan inti dilakukan selama 90 menit.

3. Observasi Tindakan II
Dari hasil pengamatan peneliti pada siklus kedua ini ketrampilan Passing Bawah yang dimiliki siswi sudah meningkat dibandingkan dengan Siklus II. Dan di dalam melakukan latihan siswi sudah menunjukkan keseriusan dan semangat dalam permainan bola voli.

4. Refleksi Tindakan II
Berdasarkan hasil observasi pada tindakan kedua ini siswi sudah menunjukkan ketrampilannya dalam melakukan Passing Bawah. Untuk proses belajar mengajar selanjutnya perlu lebih meningkatkan kembali tehnik permainan bola voli secara keseluruhan agar siswi dapat bermain voli dengan benar.
A. Pembahasan
Hasil peneitian menunjukkkan bahwa proses latihan yang kondusif dapat meningkatkan ketrampilan bermain voli dan dapat menggunakan tehnik Passing Bawah dengan benar.
Ketrampilan siswi meningkat karena siswi lebih aktif belajar dan tumbuhnbya rasa percaya diri serta semangat didalam kelompok bermainnya. Yang lebih tampak kekompakan dan kejasama untuk memahami tehnik Passing Bawah ini dengan memecahkan kesulitan secara bersama.
Subjek penelitian ini adalah siswi kelas ........... SD .............., maka siswi harus berprakarsa sendiri , mengamati, menganalisa, membantu penilaian dan sebagainya. Fungsi guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing sesuai dengan prinsip belajar dengan keaktifan dalam belajar dan mengikuti latihan.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa bimbingan guru sebagai pendidikan sangat membantu menumbuhkan semangat dan motivasi kepada siswi untuk lebih meningkatkanketrampilan tehnik Passing Bawah dalam permainan bola voli.
Sungguh pun demikian guru harus meyakinkan siswi bahwa belajar dan latihan secara efektif dan serius dapat berpengaruh pada keberhasilan siswi untuk meningkatkan ketrampilan bermain voli dan hal ini juga tergantung kepada sejauh mana siswi dapat memanfaatkan waktu yang diberikan dan keseriusan siswi dalam mengikuti latihan baik dalam waktu pelajaran Penjaskes maupun waktu diberikan ekstrakulikuler.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas di SD.....................tentang “ Upaya Meningkatkan Tehnik Passing Bawah dalam Permainan Bola Voli pada Siswi Kelas ..........SD ..............” dapat disimpulkan beberapa hal :
1. Faktor – faktor yang menghambat kemampuan tehnik passing Bawah pada permainan bola voli di kelas V diantaranya :
a. Faktor kekuatan, siswi belum mampu mengembalikan bola ketempat lawan secara langsung.
b. Faktor tehnik , siswi belum mampu memahami dan menerapkan rangkaian gerakan tehnik Passing Bawah dengan baik.
2. Cara mengatasi tehnik Passing Bawah bola Voli salah satu yaitu memberikan latihan yang khusus diluar jam sekolah tentang penerapan gerakan tehnik Passing Bawah bola voli agar lebih banyak mencoba dan bisa memecahkan masalah sendiri dengan bimbingan guru.

B. Saran
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, guru pendidikan hendaknya dapat memotivasi siswi agar lebih kretif dan meningkatkan kemampuannya , khususnya dalam permainan bola voli. Selain itu juga guru harus membimbing da mengarahkan siswa dalam meningkatkan ketrampilannya dalam tehnik Passing Bawah bola voli, dan yang paling penting adalah cara guru mengembangkan metode pembelajaran agar timbul kegairahan siswa untuk belajar,kemudian hendaknya siswi lebih giat belajar lagi.



DAFTAR PUSTAKA

Bainil. 2003/2004.hubungan kekuatan otot Lengan dengan Kemampuan Passing dalam Permainan Bola Voli. Skripsi (tidak dipublikasikan)

Kuswajaya,wihardit .2006.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:universitas Terbuka

Viera,Barbaral dan Fengason Bonnic Jill.1996.Volley Ball. University of Delawk .

Rochiati,Wiriatmaja.2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas . Bandung : PT.Remaja Rosdakarya.

Sarayin.BA.1998.Penuntun Pelajaran Orkes Kelas I SMA. Ganeca Excac. Bandung.

Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

Ketika mahasiswa disibukkan dengan berbagai tugas kampus, banyak mahasiswa yang mencari referensi untuk menyelesaikan tugasnya baik di buku, surat kabar bahkan tidak sedikit mahasiswa juga menjadikan internet sebagai tongkrongan mereka sebagai tempat mencari referensi, sekitar 1 hari yang lalu tepatnya pada tanggal 29 Desember 2011. Mahasiswa IKIP Mataram yang Bernama YAYA SURYA NUGRAHA yang sedang duduk di semester 7 jurusan FPOK mengirimkan file ke email saya yang berjudul Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Beliau mengirimkan Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan untuk di bagi kepada sahabat sahabat semua untuk dijadikan sebagai referensi dalam menyusun Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, semoga dengan adanya makalah ini sahabat semua dapat terbantu dalam menyusun tugas yang sesuai dengan makalah yang saya posting ini. Oh iya bagi sahabat sahabat semua yang membutuhkan rpp berkarakter penjasorkes baik di tingkat SD, SMP, SMA mapun SMK ada juga loh di blog ini. penjasorkes sd, penjasorkes smp, penjasorkes sma, dan penjasorkes smk Tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada saudara kita ini yang mau membagikan tugasnya secara free kepada kita semua, semoga beliau diberikan rezeki serta kesahatan dari Allah SWT. Amin. Berikut Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di bawah ini BAB I PENDAHULUAN Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 1.1    Latar Belakang Pendidikan jasmani sebagai komponen pendidikan secara keseluruhan telah disadari oleh banyak kalangan. Namun, dalam pelaksanaannya pengajaran pendidikan jasmani berjalan belum efektif seperti yang diharapkan. Pembelajaran pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model pembelajaran pendidikan jasmani tidak harus terpusat pada guru tetap pada siswa. Orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak, isi dan urusan materi serta cara penyampaian harus disesuaikan sehingga menarik dan menyenangkan, sasaran pembelajaran ditujukan bukan hanya mengembangkan keterampilan olahraga, tetapi pada perkembangan pribadi anak seutuhnya. Konsep dasar pendidikan jasmani dan model pengajaran pendidikan jasmani yang efektif perlu dipahami oleh mereka yang hendak mengajar pendidikan jasmani. Pengertian pendidikan jasmani sering dikaburkan dengan konsep lain. Konsep. Itu menyamakan pendidikan jasmani dengan setiap usaha atau kegiatan yang mengarah pada pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building), kesegaran jasmani (physical fitness), kegiatan fisik (physical activities), dan pengembangan keterampilan (skill development). Pengertian itu memberikan pandangan yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang sebenarnya. Walaupun memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan tertentu, namun karena tidak dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan itu tidak mengandung unsur-unsur pedagogik. Pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik secara terisolasi, akan tetapi harus berada dalam konteks pendidikan secara umum (general education). Sudah barang tentu proses tersebut dilakukan dengan sadar dan melibatkan interaksi sistematik antar pelakunya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bagaimanakah definisi pendidikan yang kita anut? Adanya perbedaan pengertian itu pendidikan jasmani dengan istilah-istilah lain seperti gerak badan, aktivitas fisik, kesegaran jasmani, dan olahraga hendaknya tidak menimbulkan polemik yang menyesatkan. Perbedaan pendapat itu sesuatu yang wajar, yang terpenting seseorang harus melakukan pembatasan pengertian yang dianut secara jelas dan konsisten apabila membicarakan atau menuliskan berbagai istilah itu sehingga tidak rancu. Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila. Secara eksplisit istilah pendidikan jasmani dibedakan dengan olahraga. Dalam arti sempit olahraga diidentikkan sebagai gerak badan. Olahraga ditilik dari asal katanya dari bahasa jawa olah yang berarti melatih diri dan rogo (raga) berarti badan. Secara luas olahraga dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada setiap manusia. Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromoskuler, perseptual, kognitif, sosial dan emosional. BAB II KAJIAN PUSTAKA Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 2.1 Pengertian pendidikan jasmani Pendidikan jasmani merupakan suatu proses seseorang sebagai individu maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan, dan pembentukan watak Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia, karena dalam pendidikan jasmani menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan mengembangan karakter. Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani biasanya dengan contoh atau perilaku. Pengajar tidak baik berkata kepada muridnya untuk memperlakukan orang lain secara adil kalau dia tidak memperlakukan muridnya secara adil. Selain dari pada itu pendidikan jasmani dan olahraga begitu kaya akan pengalaman emosional. Aneka macam emosi terlibat di dalamnya. Kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga yang berakar pada permainan, ketrampilan dan ketangkasan memerlukan pengerahan energi untuk menghasilkan yang terbaik. Pantas rasanya jika kita setuju untuk mengemukakan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan dasar atau alat pendidikan dalam membentuk manusia seutuhnya, dalam pengembangan kemampuan cognitif, afektif dan psikomotor yang behavior dalam membentuk kemampuan manusia yang berwatak dan bermoral. 2.2 Tujuan Pendidikan Jasmani Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar  Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif. 2.3 Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya  Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya  Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya  Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung  Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek. 2.4 Hakekat olahraga dan penjas Filsafat olahraga, seperti filsafat lainnya, dalam olahraga ada beberapa konsep yang perlu dikaji dan dipahami secara mendalam. Konsep ini bersifat abstrak yaitu ‘mental image’. Walau kita tahu bahwa konsep ini abstrak, tetapi didalam konsep ini ada makna tertentu, walau perbedaan makna pada setiap individu berbeda-beda tentang ini. Konsep dasar tentang keolahragaan beragam, seperti bermain (play), Pendidikan jasmani (Physical education), olahraga (Sport), rekreasi (recreation), tari (dance). Bermain (play) adalah fitrah manusia yang hakiki sebagai mahluk bermain (homo luden), bermain suatu kegiatan yang tidak berpretensi apa-apa. Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat belum tercemar. Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat menyenangkan dan gembira ini merupakan bentuk permainan yang belum tercemar. Dalam bermain pendidikan etika yang ada tidak mengenal pada suatu ajaran tertentu, karena anak bermain tidak melihat sisi religius teman dan bentuk permainan, karena tidak ada aturan dalam hal religus dalam bentuk permainan, pendidikan etika disini yang membetuk manusia yang baik dan kritis, sehingga proses pemberian pembelajarannya lebih bersifat mengembangkan daya pikir kritis dengan mengamati realitas kehidupan. Seperti melihat harimau, maka anak akan meniru gaya harimau yang menerkam mangsa, simangsa sudah tentu adalah teman sepermainnya. Temannya akan berjuang mempertahankan dengan bergelut. Bermain dalam alam anak memberikan konsep anak bertanggung jawab terhadap permainan tersebut. Ketika terjadi “perselisihan” maka tanggung jawab anak terhadap permainan ini membantu dalam pengembangan moralnya. Olahraga (sport) yang merupakan kegiatan otot yang energik dan dalam kegiatan itu atlet memperagakan kemampuan geraknya (performa) dan kemauannya semaksimal mungkin, akan tetapi perkembangan teknologi memungkinkan faktor mesin menjadi techno-sport, seperti balap mobil, balap motor, yang banyak tergantung dengan faktor mesin. 2.5 Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani Kita telah menyadari bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia, oleh sebab itu guru pendidikan jasmani harus mencoba mengajarkan etika dan nilai dalam proses belajar mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak. Karakter anak didik yang dimaksud tentunya tidak lepas dari karakter bangsa Indonesia serta kepribadian utuh anak, selain harus dilakukan oleh setiap orangtua dalam keluarga, juga dapat diupayakan melainkan pendidikan nilai di sekolah. Saran yang bisa diangkat yaitu : Seluruh suasana dan iklim di sekolah sendirii sebagai lingkungan sosial terdekat yang setiap hari dihadapi, selain di keluarga dan masyarakat luas, perlu mencerminkan penghargaan nyata terhadap nilai-nilai, kemanusiaan yang mau diperkenalkan dan ditumbuhkembangkan penghayatannya dalam diri peserta didik. Misalnya, kalau sekolah ingin menanamkan nilai keadilan kepada para peserta didik, tetapi di lingkungan sekolah itu mereka terang-terangan menyaksikan berbagai bentuk ketidakadilan, maka di sekolah itu tidak tercipta iklim dan suasana yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai. Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai-nilai yang mereka ajarkan akan dapat secara instingtif mengimbas dan efektif berpengaruh pada peserta didik. Sebagai contoh, kalau guru sendiri memberi kesaksikan hidup sebagai pribadi yang selalu berdisiplin, maka kalau ia mengajarkan sikap dan nilai disiplin pada peserta didiknya, ia akan lebih disegani. Semua pendidik di sekolah, terutama para guru pendidikan jasmani perlu jeli melihat peluang-peluang yang ada, baik secara kurikuler maupun non/ekstra kurikuler, untuk menyadarkan pentingnya sikap dan perilaku positif dalam hidup bersama dengan orang lain, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat. Misalnya sebelum pelajaran dimulai, guru menegaskan bila anak tidak mengikuti pelajaran karena membolos, maka nilai pelajaran akan dikurangi. Secara kurikuler pendidikan nilai yang membentuk sikap dan perilaku positif juga bisa diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri, misalnya dengan pendidikan budi pekerti. Akan tetapi penulis tidak menyarankan untuk di lakukan. Melalui pembinaan rohani siswa, melalui kegiatan pramuka, olahraga, organisasi, pelayanan sosial, karya wisata, lomba, kelompok studi, teater, dll. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut para pembina melihat peluang dan kemampuannya menjalin komunikasi antar pribadi yang cukup mendalam dengan peserta didik. BAB III PENUTUP Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 3.1 Kesimpulan Olahraga bersifat netral dan umum, tidak digunakan dalam pengertian olahraga kompetitif, karena pengertiannya bukan hanya sebagai himpunan aktivitas fisik yang resmi terorganisasi (formal) dan tidak resmi (informal). Pendidikan jasmani pada dasarnya bersifat universal, berakar pada pandangan klasik tentang kesatuan erat antara “body and mind”, Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional Untuk mendapatkan Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan  ini beserta daftar pustakanya harap sahabat sahabat semua mendownloadnya dibawah ini.

Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/12/makalah-pendidikan-jasmani-dan.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com

Kesegaran Jasmani

Pengertian, Fungsi, Komponen, Alat Ukur A.    Pengertian Kesegaran Jasmani Mengenai definisi kesegaran jasmani ada beberapa ahli memberikan pengertian sebagai berikut :  Sadoso Sumosardjuno (1989 : 9) mendefinisikan Kesegaran Jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menunaikan tugasnya sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan, serta masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluan-keperluan mendadak. dengan kata lain Kesegaran jasmani dapat pula didefinisikan sebagai  kemampuan untuk menunaikan tugas dengan baik walaupun dalam keadaan sukar, dimana orang yang kesegaran jasmaninya kurang, tidak akan dapat melakukannya. Agus Mukhlolid, M.Pd (2004 : 3) menyatakan bahwa Kesegaran Jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan kerja atau aktivitas, mempertinggi daya kerja dengan tanpa mengalami kelelahan yang berarti atau berlebihan.   Sumosardjuno dan Giri Widjojo menyatakan kesegaran jasmani adalah kemampuan tubuh untuk menyesuaikan fungsi alat-alat tubuh dalam batas fisiologi terhadap keadaan lingkungan atau kerja fisik secara efisien tanpa lelah berlebihan. Suratman (1975) kesegaran jasmani adalah suatu aspek fisik dari kesegaran menyeluruh (total fitness) yang memberi kesanggupan kepada seseorang untuk menjalankan hidup yang produktif dan dapat menyesuaikan pada tiap pembebanan atau stres fisik yang layak.  B.    Fungsi Kesegaran Jasmani Kesegaran Jasmani mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Kebugaran jasmani berfungsi untuk meningkatkan kemampuan kerja bagi siapapun yang memilikinya sehingga dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara optimal untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Dari hasil seminar kebugaran jasmani nasional pertama yang dilaksanakan diJakarta pada tahun 1971 dijelaskan bahwa fungsi kebugaran jasmani adalah untuk mengembangkan kekuatan, kemampuan, dan kesanggupan daya kreasi serta daya tahan dari setiap manusia yang berguna untuk mempertinggi daya kerja dalam pembangunan dan pertahanan bangsa dan negara. Fungsi khusus dari kesegaran jasmani terbagi menjadi tiga golongan sebagai berikut: a.    Golongan pertama yang berdasarkan pekerjaan Misalnya kebugaran jasmani bagi olahragawan untuk meningkatkan prestasi, kebugaran jasmani bagi karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja, dan kebugaran jasmani bagi pelajar untuk mempertinggi kemampuan belajar. b.    Golongan kedua berdasarkan keadaan Misalnya kebugaran jasmani bagi orang-orang cacat untuk rehabilitasi, dan kebugaran jasmani bagi ibu hamil untuk mempersiapkan diri menghadapi kelahiran. c.    Golongan ketiga berdasarkan umur Bagi anak-anak untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, dan kebugaran jasmani bagi orang tua untuk meningkatkan daya tahan tubuh ( Agus Mukholid, M.Pd, 2004 : 3). C.    Komponen-komponen Kesegaran Jasmani Kesegaran jasmani terdiri dari dua bagian, yaitu :Kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan (healtah related fitness)terdiri dari : daya tahan jantung paru (cardiorespiatory), kekuatan otot, daya tahan otot, fleksibilitas, dan komposisi tubuh. Kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan (skill related) terdiri dari : kecepatan, power, keseimbangan, kelincahan, koordinasi dan kecepatan reaksi (Mutohir dan Gusril, 2004 :72) Menurut Sadoso Sumosardjuno (1989 : 9), mengelompokkan Kesegaran jasmani dalam 4 komponen pokok diantaranya : Ketahanan jantung dan peredaran darah (cardiovascular endurance) Kekuatan (strength) Ketahanan otot (muscular endurance) Kelenturan (flexibility) Berdasarkan uraian di atas, dapat disarikan bahwa komponen-komponen pokok yang berkaitan dengan kesegaran jasmani, yaitu: Kesanggupan dan kemampuan (kapasitas) seseorang dalam melakukan tugas sehari-hari. Meningkatkan daya kerja terutama fungsi jantung, peredaran darah, paru dan otot. Tanpa mengalami kelelahan yang berarti, yakni : adanya pemulihan kembali. Masih memiliki cadangan energi   Secara umum membantu peningkatan kualitas hidup seseorang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah aspek-aspek kemampuan fisik yang menunjang kesuksesan seseorang dalam melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupannya. Semakin tinggi tingkat Kesegaran jasmani seseorang, maka semakin besar pula kemungkinannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan semakin besar pula untuk menikmati kehidupan. D.    Cara Meningkatkan Kesegaran Jasmani Untuk peningkatan dan pemeliharaan kebugaran jasmani tidak terlepas dari latihan jasmani yang membina keseimbangan unsur kesegaran jasmani. Untuk membina atau memelihara kesegaran jasmani, salah satu caranya adalah dengan melakukan latihan fisik atau latihan jasmani. Suatu latihan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesegaran jasmani, harus dilakukan menurut aturan atau cara tertentu.  Hal ini berkaitan pula dengan jenis kegiatan jasmani yang terbagi dalam beberapa jenis, yaitu kegiatan yang bersifat aerobic (latihan yang membutuhkan oksigen) dan kegiatan yang bersifat anaerobic (latihan yang tidak membutuhkan oksigen), dan yang tergantung pada keterampilan.  (Sadoso Sumardjuno, 1989 : 12) menyatakan bahwa untuk meningkatkan dan mempertahankan kesegaran jasmani dengan baik, haruslah memenuhi tiga macam takaran, antara lain sebagai berikut : a.    Intensitas latihan  Intensitas latihan kesegaran jasmani berkisar antara 72 % - 87 % dari denyut nadi maksimal . artinya bagi seseorang yang umurnya 45 tahun, bila melakukan latihan, maka intensitas latihan yang dilakukan haruslah sampai denyut nadi mencapai paling sedikit 126 per menit (72% dari denyut nadi maksimal) dan paling tinggi 152 denyut permenit (87% dari denyut nadi maksimal).    b.    Lamanya Latihan Lama latihan yang baik dan tidak berbahaya harus berlatih mencapai zone latihan (traning zone) dan berada dalam zone latihan 15-25 menit. c.     Takaran latihan    Jika intensitas latihan lebih tinggi, maka waktu latihan dapat lebih pendek. Sebaliknya jika intensitas latihannya lebih kecil, maka waktu latihan harus lebih lama. Takaran lamanya latihan untuk olahraga kesehatan antara 20-30 menit dalam zone latihan, lebih lama lebih baik. Latihan-latihan tidak akan efisien atau kurang membuahkan hasil, kalau kurang dari takaran tersebut.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        E.    Alat Ukur Kesegaran Jasmani Alat untuk mengukur Tingkat Kesegaran Jasmani seseorang berbeda-beda menurut jenjang sekolah, yaitu untuk Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Menangah Atas /Kejuruan. Tes Kesegaran Jasmani yang digunakan untuk anak-anak dari usia Sekolah Dasar, Sekolah lanjutan Tingkat Pertama dan  Sekolah Menengah Atas  antara lain :  Tes Kesegaran Jasmani untuk siswa Sekolah Dasar (kelas 1,2 dan 3), rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 30 meter, 2). Angkat tubuh 30 detik, 3). Baring duduk 30 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari 600 meter. Tes Kesegaran Jasmani untuk siswa Sekolah Dasar (kelas 4, 5 dan 6), rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 40 meter, 2). Angkat tubuh 30 detik, 3). Baring duduk 30 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari 600 meter. Tes Kesegaran Jasmani untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 50 meter, 2). Angkat tubuh (30 detik untuk putri dan 60 detik untuk putra), 3). Baring duduk 60 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari jarak jauh (800 meter untuk putri dan 1000 meter untuk putra). Tes Kesegaran Jasmani untuk Sekolah Menengah Atas, rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 50 meter, 2). Angkat tubuh (30 detik untuk putri dan 60 detik untuk putra), 3). Baring duduk 60 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari jarak jauh (800 meter untuk putri dan 1000 meter untuk putra).(Nurhasan, 2001 :149) F.    Jenis-jenis dan takaran pelatihan olahraga untuk menigkatkan kesegaran jasmani Adapun beberapa macam bentuk pelatihan olahraga sebagai sarana untuk pembinaan dan pemeliharaan kesegaran jasmani, yaitu antara lain : jalan, joging, bersepeda, berenang dan bentuk-bentuk pelatihan fisik lain yang penting ada penekanan pada unsur aerobik. Sedangkan mengenai takarannya, sumosarjuno (1983) dalam Wiryosaputro (1988 : 230), mengemukakan bahwa agar pelatihan fisik dapat berjalan dengan aman dan efektif, maka dibutuhkan catatan yang harus memperhatikan 3 faktor yaitu : a.    Intensitas pelatihan Intensitas pelatihan fisik yang dianjurkan dalam rangka meningkatkan kesegaran jasmani sebaiknya antara 60% dan 80% dari kapasitas aerobic maksimal, atau antara 72%/87% dari denyut nadi yang dianjurkan akan berdampak kurang baik terhadap kesehatan. b.    Lamanya pelatihan Sebaiknya pelatihan fisik yang dianjurkan adalah berlatih sampai mencapai “training zone” (sesuai dengan denyut nadi maksimal), dan berada dalam training zone selama 15-25 menit.   c.    Frekuensi latihan Dianjurkan untuk melakukan pelatihan fisik dengan frekuensi pelatihan 3-5 kali setiap minggu yang berhubungan erat dengan intensitas dan lamanya pelatihan. Berkaitan dengan takaran pelatihan seperti tersebut diatas Giam dan Teh (1992:17), menyatakan bahwa bagi mereka yang cukup sehat dan memiliki kebugaran yang baik, sesuai petunjuk resep FITT dapat memberikan manfaat maksimal terhadap tingkat kebugaran.   Adapun anjuran tersebut adalah sebagai berikut : Frekuensi adalah 3-5 kali setiap minggu Intensitas adalah kurang lebih 60-85% dari denyut nadi maksimal. Tipe (macam pelatihan) adalah suatu macam kombinasi pelatihan aerobik dan aktifitas kalestenik (senam). Pilihan aktifitas tersebut berdasarkan selera, keadaan dan kebugaran tersedianya fasilitas yang digunakan. Time (waktu pelatihan) adalah 15-20 menit pelatihan yang bersifat aerobik yaang dilakukan terus-menerus dan didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri dengan pendinginan selama 5-10 menit. G.    Pengaruh latihan senam sehat ceria terhadap tingkat kesegaran jasmani Secara umum latihan senam sehat ceria termasuk kegiatan aerobik apabila kegiatan aerobik dilakukan akan menyebabkan perubahan pada organ tubuh terutama pada daya tahan jantung peredaran darah dan pernapasan a.    Pengaruh aerobik terhadap kerja jantung dan peredaran darah Sehat ceria mempunyai banyak unsur kesegaran jasmani, apabila kegiatan ini dilakukan secara rutin dan terkontrol akan dapat meningkatkan kesegaran jasmani. Mengenai pengaruh latihan senam sehat ceria terhadap denyut jantung dan peredaran darah darah Cooper mengatakan : seseorang yang terlatih dengan baik dan melakukan olahraga secara teratur, dalam keadaan istirahat frekuensi denyut jantungnya = 60 denyut permenit atau kurang, sedangkan orang yang tidak terlatih, dalam keadaan istirahat frekuensi denyut janutungnya = 80 denyut permenit (Cooper 1983 : 212). b.    Pengaruh aerobik terhadap kerja paru-paru Paru-paru merupakan bagian tubuh yang berfungsi untuk menghirup udara bebas kedalamnya. Dalam buku penetahuan jasmani Wasasi mengatakan : orang yang terlatih 18-20 kali permenit. Dari uaraian diatas dijelaskan bahwa dengan melakukan senam sehat ceria secara teratur dapat memperbaiki daya tahan jantung, jantung dan pernapasan. Semakin baik peredaran darah, jantung dan pernapasan maka kesegaran jasmani semakin meningkat.   H.    Senam Indonesia Sehat Ceria Senam indonesia sehat ceria merupakan salah satu bentuk senam yang bertujuan untuk meningkatkan kesegaran jasmani. Adapun gerakan senam ini berbagai dalam beberapa bagian yaitu :  Pemanasan yang terdiri dari 4 macam latihan,  Inti terdiri dari 4 macam latihan dan  Pendinginan terdiri dari 4 macam latihan (Asosiasi Kebugaran Indonesia, 2004 : 1). 

Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/09/kesegaran-jasmani-pengertian-fungsi.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com

Bola Voli

Sejarah, Pengertian, Teknik, Peraturan A.    Sejarah Permainan Bola Voli Permainan bola voli  diciptakan oleh William B Morgan pada tahun 1895 di Holyoke (Amerika bagian timur). William B Morgan adalah seorang pembina pendidikan jasmani pada Young Men Christain Association (MCA). Permainan bola voli di Amerika sangat cepat perkembangannya, sehingga tahun 1933 YMCA mengadakan kejuaraan bola voli  nsional. Kemudian permainan bola voli  ini menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1974 pertama kali bola voli  dipertandingkan di Polandia dengan peserta yang cukup banyak. Maka pada tahun 1984 didirikan Federasi Bola Voli  Internasional atau Internationnal Voli  Ball Federation (IVBF) yang waktu itu beranggotakan 15 negara dan berkedudukan di Paris. Permainan bola voli  sangat cepat perkembangannya, antar lain disebabkan oleh : Permainan bola voli  tidak memerlukan lapangan yang luas. Mudah dimainkan. Alat-alat yang digunakan untuk bermain sangat sederhana. Permainan ini sangat menyenangkan. Kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat kecil. Dapat dimainkan di alam bebas maupun di ruang tertutup. Dapat di mainkan banyak orang Permainan bola voli  masuk ke Indonesia pada waktu penjajahan Belanda (sesudah tahun 1928). Perkembangan permainan bola voli  di Indodesia sangat cepat. Hal ini terbukti pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-2 tahun 1952 di jakarta. Sampai sekarang  permainan bola voli  termasuk salah satu cabang olahraga yang resmi dipertandingkan. Pada tahun 1955 tepatnya tanggal 22 Januari didirikan Organisasi Bola Voli  Seluruh Indonesia (PBVSI) dengan ketuanya W. J. Latumenten. Setelah adanya induk organisasi bola voli  ini, maka pada tanggal 28 sampai 30 mei 1955 diadakan kongres dan kejuaraan nasional yang pertama di Jakarta. Dengan melihat perkembangan permainan bola voli  yang begitu pesat sangatlah tepat bila pemerintah memilih permainan bola voli  sebagai olahraga pendidikan di sekolah-sekolah. Hanya pada umumnya permainan bola voli sedikit mengalami kesulitan di dalam memperkenalkan pada anak-anak didik. Kesulitan ini terletak pada gerakan dasar permainan bola voli . B.    Teknik Dasar Permainan Bola Voli 1.    Pengertian Teknik Teknik adalah suatu proses melahirkan keaktifan jasmani dan pembuktian suatu peraktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang olahraga (khususnya cabang permainan bola voli ). Teknik dikatakan baik apabila dari segi anatomis/fisiologis mekanik dan mental terpenuhi secara benar persyaratannya. Apabila diterapkan pencapaian prestasi maksimal untuk menganalisa gerakan teknik, umumnya para guru atau pelatih akan dapat mengoreksi dan memperbaiki (Suharno, HP, 1983 : 3). 2.    Kegunaan Teknik Pada Cabang Olahraga Efisien dan Efektif untuk mencapai prestasi maksimal. Untuk mencegah dan mengurangi terjadinya cidera Untuk menambah macam-macam teknik atlet ada saat pertandingan. (Suharno, HP. 1982 : 30). Atlet akan lebih mantap dan optimis dalam memasuki arena pertandingan (Engkos Kosasih, 1984 : 109). 3.    Teknik Penguasaan Bola Untuk dapat menguasai bola secara maksimal dan sempurna seorang pemain setidaknya harus memiliki kemampuan-kemampuan seperti mampu melakukan passing atas secara baik dan benar dari teknik dasar ini tidak diabaikan dan harus dilatih dengn baik, seseorang harus mengerti dan benar-benar dapat menguasai teknik penguasaan bola  dengan baik dan terus menerus, (Dleter Beullteshtahl. 1986 : 9). Agar dapat bermain bola voli  dengan baik, seseorang harus mengerti dan benar-berar dapat menguasai teknik penguasaan bola dengan baik. Dengan menguasai teknik penguasaan bola dan latihan yang continue diharapkan nantinya dapat bermain bola voli secara baik dan benar. 4.    Passing Bawah Passing bawah biasanya dipergunakan oleh para pemain jika bola datangnya rendah, baik untuk dioperkan kepada teman seregunya maupun untuk dikembalikan ke lapangan lawan melewati atas jaring atau net. 5.    Passing Atas Passing atas atau passing tangan atas adalah cara pengambilan bola atau mengoper dari atas kepala dengan jari-jari tangan. Bola yang datang dari atas diambil dengan jari-jari tangan di atas, agak di depan kepala (Aip Syarifuddin, 1997 : 69). Gerakan passing bawah dan passing atas yang menunjukkan bahwa digunakan passing bawah pada saat bola yang datangnya rendah atau berada di depan dada, sedangkan passing atas digunakan apabila bola datangnya di atas atau melambung. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk menerima bola service lebih baik dan tepat menggunakan passing bawah dibandingkan dengan passing atas, karena kebanyakan bola sevice datangnya rendah dan berada di depan dada. 6.    Service Bawah Service bawah adalah cara melakukan pukulan permukaan dari petak service dengan memukul bola dengan tangan dari bawah sebagai usaha menghidupkan bola dalam permainan (Aip Syarifuddin, 1997 : 70). Service bawah merupakan service yang dilakukan dengan tangan bawah, siku diluruskan dan ayunan tangan dari belakang ke depan melalui samping badan, salah satunya tangan memegang bola dan bola tersebut dilambungkan baru dipukul. Service ini sangat populer dan sering dilakukan oleh pemain pemula. 7.    Service Atas Service atas adalah cara melakukan pukulan permulaan dari bawah service dengan memukul bola dari atas kepala sebagai usaha menghidupkan bola ke dalam permainan (Aip Syarifuddin, 1997 : 53). Servise atas banyak variasinya, bola dapat dilambungkan dengan satu tangan atau dua tangan, tinggi lambungan bola tergantung dari maksud pukulan dan kesenangan pribadi pemain. Namun pada prinsipnya harus diusahakan agar bola dilambungkan sedemikian rupa tingginya, sehingga seluruh rangkaian gerakan memukul menjadi satu gerakan yang tidak terputus-putus. 8.    Service Samping Service samping adalah melakukan pukulan permulaan dari daerah service dengan sikap berdiri menyamping dan berat badan berada di kaki kanan (bagi yang tidak kidal), telapak tangan menghadap ke atas (Mariyanto, 1995 : 119). Adapun pelaksanaan service samping adalah service berdiri menyamping dengan tubuh bagian kiri lebih dekat dengan jaring (bagi yang tidak kidal) kedua tanga bersama-sama memegang bola. Pada saat bola akan dilambungkan, maka badan diliukkan ke belakang dan lutut ditekuk. Kedua tangan dijulurkan ke samping kanan, begitu bola lepas dari tangan, maka tangan ditarik kesamping kanan bawah, berat badan berada di kaki kanan, telapak tangan menghadap ke atas, pukulan tangan pada bola dibantu dengan liukan badan, lecutan lengan dan gerakan pergelangn tangan sehingga bola setelah dipukul melambung dengan keras dan topspin. 9.    Service Lompat Service lompat adalah cara melakukan pukulan permulaan di daerah service dengan melompat setelah bola dilambungkan dengan satu tangan atau dua tangan (Aip Syarifuddin, 1997 : 59). Service lompat dilakukan dengan bola dilambungkan dengan satu atau dua tangan. Begitu bola dilambungkan diikuti dengan melompat dan diusahakan bola berada di atas depan kepala. Bila bola telah berada di atas depan kepala maka segeralah tangan kanan dipukulkan pada bola secepatnya. 10.    Smash (Spike) Smesh atau spike adalah gerakan memukul bola yang dilakukan dengan kuat dan keras serta jalannya bola cepat, tajam dan menukik serta sulit diterima lawan apabila pukulan itu dilakukan dengan cepat dan tepat (Aip Syarifuddin, 1997 : 58). Pada teknik smash inilah letak seninya permainan bola voli , apabila pemain hendak memenangkan pertandingan maka mau tidak mau mereka harus menguasai teknik smash. Pemain yang pandai melakukan smash atau dengan istilah smasher harus memiliki kelincahan, daya ledak, timing yang tepat dan mempunyai kemampuan memukul bola yang sempurna. Pemain bola voli  akan dapat melakukan berbagai variasi smash apabila pemain tersebut menguasai teknik dasar smash secara baik dan benar. 11.    Membendung Membendung (Bloking) adalah bentuk gerakan seseorang atau beberapa orang pemain yang berada didekat net/pemain depan (Aip Syarifuddin, 1997 : 58). Tujuan untuk menutupi atau membendung datangnya bola dari lapangan lawan, caranya dengan menjulurkan kedua tangan ke atas dengan ketinggian yang kanan lebih tinggi dari tepian atau bibir net. Selama melakukan blocking perhatian harus terus menerus kepada bola, posisi smasher terhadap bola dan pendangan mata dari pada smasher. Untuk menyesuaikan terhadap arah datangnya smash, maka perlu mengadakan langkah atau step ke samping kiri atau ke kanan dengan maksud agar setiap saat dapat melompat ke atas untuk melakukan blocking. C.    Passing Atas 1.    Pengertian passing Atas Passing atas merupakan teknik penguasaan bola yang penting untuk dipelajari. Passing atas adalah dapat diartikan menyajikan bola atau mengoper bola dengan menggunakan jari tangan kepada lawan atau langsung ke lapangan lawan, di samping itu passing atas yang baik akan mempengaruhi di dalam pertandingan tetapi hal ini lebih menonjol dalam pertandingan tingkat tinggi dibandingkan pada pertandingan yang lebih rendah. Waktu melakukan passing atas harus diperhatikan beberapa hal, seperti yang dikembangkan oleh Engkos Kosasih sebagai berikut : Konsentrasi untuk melakukan passing atas. Berlatih dan menyesuaikan diri untuk menguasai bola. Lihat dan pelajari dimana tempat menempatkan bola yang tepat. Ketahui posisi lemah regu lawan (Engkos Kosasih, 1985 : 109). Beberapa cara di dalam melakukan passing atas dalam parmainan bola voli , antara lain : 1.1.    Passing Atas Individu Tempatkan badan di bawah bola. Kedua kaki dibuka, lutut ditekuk, sehingga posisi tubuh berada dalam keadaan setengah jongkok. Siku dibengkokkan, jari-jari tengah direnggangkan dan letak di depan atas dahi. Sikap tangan seperti mangkok. Pandangan ke arah datangnya bola. Pada waktu bola datang, bola didorong dengan jari-jari tangan, perkenaan tangan pada bola yaitu ruas pertama dan kedua jari telunjuk sampai kelingking, sedangkan ibu jari hanya pada ruas pertama. Untuk membantu gerakan jari-jari tangan, pergelangan tangan digerakkan kearah depan atas. Setelah bola lepas dari tangan, diikuti dengan gerakan anggota badan dan langkah kaki ke depan untuk menjaga keseimbangan (Edi Suparman, 1994 : 91). 1.2.    Passing Atas Ke Dinding Ada beberapa pendapat ahli mengenai passing atas ke dinding antara lain : Theo Khelmen dan Dleler Kruber (1990 :40) menyatakan : dengan melakukan passing atas ke dinding berturut-turut maka akan dapat menyempurnakan kemampuan mengarahkan bola. Bonnie Robisson (1991 : 44 - 46 ) mengatakan seseorang pemain harus memperdalam kekuatan tangan untuk mendorong bola ke dinding dengan jarak antara 90 – 12 cm dari dinding atau tembok. Dalam penelitian ini ditetapkan jarak seseorang yang akan melakukan passing atas ke dinding sebagai tempat pelaksanaan kegiatan adalah 120 cm, hal ini didasarkan atas uji coba. D.    Perasarana Permainan Bola Voli 1.    Lapangan dan Ukurannya Lapangan permainan bola voli  berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 18 m dan lebar 9 m, semua garis batas lapangan, garis tengah, garis daerah serang adalah 3 m (daerah depan). Garis batas itu diberi tanda batas dengan menggunakan tali, kayu, cat/kapur, kertas yang lebarnya tidak lebih dari 5 cm. lapangan permainan bola voli  terbagi menjadi dua bagian sama besar yang masing-masing luasnya 9 x 9 meter. Di tengah lapangan dibatasi garis tengah yang membagi lapangan menjadi dua bagian sama besar. Masing-masing lapangan terdiri dari atas daerah serang dan daerah pertahanan. Daerah serang yaitu daerah yang dibatasi oleh garis tengah lapangan dengan garis serang yang luasnya 9 x 3 meter. 2.    Daerah Servise Daerah service adalah daerah selebar 9 meter di belakang setiap garis akhir. Daerah ini dibatasi oleh dua garis pendek sepanjang 15 cm yang dibuat 20 cm di belakang garis akhir, sebagai kepanjangan dari garis samping. Kedua garis pendek tersebut sudah termasuk di dalam batas daerah service, perpanjangan daerah service adalah kebelakang sampai batas akhir daerah bebas. 3.    Jaring (Net) Jaring untuk permainan bola voli  berukuran tidak lebih dari 9,50 meter dan lebar tidak lebih dari 1,00 meter dengan petak-petak atau mata jaring berukuran 10 x 10 cm, tinggi net untuk putra 2,43 meter dan untuk putri 2,24 meter, tepian atas terdapat pita putih selebar 5 cm. 4.    Antene Rod Di dalam pertandingan permainan bola voli  yang sifatnya nasional maupun internasional, di atas batas samping jaring dipasang  tongkat atau rod yang menonjol ke atas setinggi 80 cm dari tepi jaring atau bibir net. Tongkat itu terbuat dari bahan fibergelas dengan ukuran panjang 180 cm dengan diberi warna kontras. 5.    Bola Bola harus bulat terbuat dari kulit yang lentur atau terbuat dari kulit sintetis yang bagian dalamnya dari karet atau bahan yang sejenis. Warna bola harus satu warna atau kombinasi dari beberapa warna. Bahan kulit sintetis dan kombinasi warna pada bola dipergunakan pada pertandingan resmi internasional harus sesuai dengan standar FIVB. Keliling bola 64 – 67 cm dan beratnya 260 – 280 grm, tekanan didalam bola harus 0, 39 – 0, 325 kg/cm2  (4,26 – 4,61 Psi) (294,3 – 318,82 mbar/hpa). 6.    Pemain Jumlah pemain dalam lapangan permainan sebanyak 6 orang setiap regu dan ditambah 5 orang sebagai pemain cadangan dan satu orang pemain libero. Satu tim maksimal terdiri dari 12 pemain, saru coach, satu sistem coach, satu trainer, dan satu dokter medis, kecuali libero, satu dari para pemain adalah kapten tim, dia harus diberi tanda dalam score sheet. Hanya pemain terdaftar dalam score sheet dapat memasuki lapangan dan bermain dalam pertandingan. Pada saat coach dan kapten tim menandatangani scoresheet pemain yang terdaftar tidak dapat diganti. Bola Voli Daftar Pustaka Kosasih Engkos, Olahraga Teknik dan Program Latihan dan Akademik, Persindo Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN, Balai Pustaka, Jakarta 1984 Soeharno HP, Dasar-Dasar permainan Bola Voli, FPOK IKIP Yogyakarta 1982 Soejono, Ilmu Coaching Umum, FKIK FPOK, Yogyakarta 1983 SyarifuddinAip, Pengetahuan Olahraga, CV baru, jakarta 1991

Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/09/bola-voli-sejarah-pengertian-teknik.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com

Makalah Sepak Bola Makalah Sepak Bola

 Sering kita lihat beberapa situs lain banyak sekali menerbitkan berita maupun info tentang bola, apalagi berita bola nasional maupun manca negara misalnya pada saat indonesia melawan malaysia di final seagames 2011. Selain berita online, tv radio pun menyiarkan secara update. Nah yang bedanya nih kali ini saya memberikan informasi tentang makalah sepak bola, ini bukan salah satu info yang aktual akan tetapi ini merukan teori ata proses pembelajaran para pemain sepak bola di seluruh dunia. Biasanya makalah sepak bola ini di butuhkan oleh mahasiswa jurusan olahraga atau pelajar yang lagi diberikan tugas untuk membuat kan makalah, maka makalh sepak bola ini  saya rasa cocok sebagai bahan referensi/contoh dalam membuat makalah sepak bola Sepak bola adalah permainan bola yang sangat populer dimainkan oleh dua tim, yang masing-masing beranggotakan sebelas orang. A.    Peraturan sepak bola Peraturan  resmi permainan sepak bola (Laws of the Game) adalah: Peraturan 1: Lapangan sepak bola Peraturan 2: Bola Peraturan 3: Jumlah Pemain Peraturan 4: Peralatan Pemain Peraturan 5: Wasit yang mengatur pertandingan Peraturan 6: Asisten wasit Peraturan 7: Lama Permainan Peraturan 8: Bola Keluar dan di Dalam Lapangan Peraturan 9: Cara Mendapatkan Angka Peraturan 10: Offside Peraturan 11: Pelanggaran Peraturan 12: Tendangan bebas Peraturan 13: Tendangan Peraturan 14: Lemparan dalam Peraturan 15: Tendangan gawang Selain peraturan-peraturan di atas internasional , keputusan-keputusan Badan Asosiasi Sepak bola Daerah (IFAB) lainnya turut menambah peraturan dalam sepak bola. B.    Tujuan permainan Sepak Bola Dua tim yang masing-masing terdiri dari 11 orang bertarung untuk memasukkan sebuah bola bundar ke gawang lawan ("mencetak gol"). Tim yang mencetak lebih banyak gol adalah sang pemenang (biasanya dalam jangka waktu 90 menit, tetapi ada cara lainnya untuk menentukan pemenang jika hasilnya seri). akan diadakan pertambahan waktu 2x 15 menit dan apabila dalam pertambahan waktu hasilnya masih seri akan diadakan adu penalti yang setiap timnya akan diberikan lima kali kesempatan untuk menendang bola ke arah gawang dari titik penalti yang berada di dalam daerah kiper hingga hasilnya bisa ditentukan. Peraturan terpenting dalam mencapai tujuan ini adalah para pemain (kecuali penjaga gawang) tidak boleh menyentuh bola dengan tangan mereka selama masih dalam permainan. C.    Permainan Sepak Bola Taktik yang biasa dipakai oleh klub-klub sepak bola adalah sebagai berikut: 4-4-2 (klasik: empat pemain belakang/skipper) 4-4-2 (dengan dua gelandang sayap) 4-4-1-1 (2 pasang gelandang sayap,satu gelandang serang dan striker tunggal) 4-2-4 (2 sayap) 4-3-2-1 (3 pemain gelandang tengah,2 gelandang serang,dan striker tunggal) 4-3-1-2 (4 bek,3 gelandang bertahan,1 penyerang lubang,2 striker) 4-5-1 (4 bek,2 sayap,3 gelandang,1 striker) 4-3-3 (4 bek,3 gelandang bertahan,2 striker sayap,1 striker tengah) 4-2-3-1 (2 bek tengah,2 bek sayap, 2 winger,1 penyerang lubang,1 striker) 4-3-3 (2 bek sayap,2 bek tengah,2 sayap,1 gelandang bertahan,3 striker tengah) 4-1-4-1 (4 bek,1 gelandang bertahan,4 gelandang,1 striker) 3-4-3 (dengan winger) 3-5-2 (dengan libero/sweeper) 3-5-2 (tanpa libero/sweeper) 3-6-1 5-4-1 Taktik yang dipakai oleh sebuah tim selalu berubah tergantung dari kondisi yang terjadi selama permainan berlangsung. Pada intinya ada tiga taktik yang digunakan yaitu; Bertahan, Menyerang, dan Normal. D.    Ofisial Sepak Bola Sebuah pertandingan diperintah oleh seorang wasit yang mempunyai "wewenang penuh untuk menjalankan pertandingan sesuai Peraturan Permainan dalam suatu pertandingan yang telah diutuskan kepadanya" (Peraturan 5), dan keputusan-keputusan pertandingan yang dikeluarkannya dianggap sudah final. Sang wasit dibantu oleh dua orang asisten wasit (dulu dipanggil hakim/penjaga garis). Dalam banyak pertandingan wasit juga dibantu seorang ofisial keempat yang dapat menggantikan seorang ofisial lainnya jika diperlukan.selain itu juga mereka membutuhkan alat-alat untuk membantu jalannya pertandingan seperti: papan pengganti pemain meja dan kursi E.    Peraturan Sepak Bola A.    Lapangan permainan Sepak Bola Ukuran lapangan standar Ukuran: panjang 100-110 m x lebar 64-75 m Garis batas: garis selebar ... cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; ... m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan Daerah penalti: busur berukuran 18 m dari setiap pos Garis penalti: ... m dari titik tengah garis gawang Garis penalti kedua: ... m dari titik tengah garis gawang Zona pergantian: daerah ... m (... m pada setiap sisi garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan Gawang: lebar 7 m x tinggi 2,5 m Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasif B.    Bola Ukuran: 68-70 cm Keliling:10 cm Berat: 410-450 gram Lambungan: 1000 cm pada pantulan pertama Bahan: karet atau karet sintetis (buatan) C.    Tim Jumlah pemain maksimal untuk memulai pertandingan: 11, salah satunya penjaga gawang Jumlah pemain maksimal keluar lapangan(tidak termasuk cedera): 4 Jumlah pemain cadangan maksimal: 12 Jumlah wasit: 1 Jumlah hakim garis: 2-4 Batas jumlah pergantian pemain: 3 kecuali pertandingan uji coba D.    Perlengkapan permainan Kaos bernomor (sejak tahun 1954) Celana pendek Kaos kaki Pelindung tulang kering Alas kaki bersolkan karet E.    Lama permainan Lama normal: 2x45 menit Lama istirahat: 15 menit Lama perpanjangan waktu: 2x15 menit (bila hasil masih imbang setelah 2 x 45 menit waktu normal) Ada adu penalti jika jumlah gol kedua tim seri saat perpanjangan waktu selesai. Time-out: 1 per tim per babak; tak ada dalam waktu tambahan Waktu pergantian babak: maksimal 15 menit Wasit sebagai pengukur waktu resmi Wasit yang memimpin pertandingan sejumlah 1 orang dan dibantu 2 orang sebagai hakim garis. Kemudian dibantu wasit cadangan yang membantu apabila terjadi pergantian pemain dan mengumumkan tambahan waktu. Pada Piala Dunia 2006, digunakan ofisial ke-lima. Penggunaan 2 wasit sempat dicoba pada copa italia.Penggunaan 4 hakim garis kabarnya juga dicoba di piala dunia 2010,dimana 2 diantaranya berada di belakang gawang. G.    Percobaan penggunaan gol emas dan gol perak Lihat: Gol perak; Gol emas. Pada akhir 1990-an, IFAB mencoba membuat pertandingan lebih mungkin berakhir tanpa memerlukan adu penalti, yang sering dianggap sebagai cara yang kurang tepat untuk mengakhiri pertandingan. Contohnya adalah sistem gol perak yang mengakhiri pertandingan jika sebuah gol dicetak pada perpanjangan waktu pertama, dan gol emas yang mengakhiri pertandingan jika sebuah gol dicetak pada perpanjangan waktu kedua. Kedua sistem ini telah dihentikan oleh IFAB. H.    Kejuaraan internasional besar Kejuaraan internasional terbesar di sepak bola ialah Piala Dunia yang diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Football Association. Piala Dunia diadakan setiap empat tahun sekali. Lebih dari 190 timnas bertanding di turnamen kualifikasi regional untuk sebuah tempat di babak final. Turnamen babak final yang berlangsung selama empat minggu kini melibatkan 32 timnas (naik dari 24 pada tahun 1998). Kejuaraan internasional yang besar di setiap benua adalah: Eropa: Piala Eropa atau dikenal dengan nama Euro Amerika Selatan: Copa América Afrika: Piala Afrika Asia: Piala Asia Amerika Utara: Piala Emas CONCACAF Oseania: Piala Oseania I.    Piala dunia mini (piala konfederasi) Ajang tingkat klub terbesar di Eropa adalah Liga Champions, sementara di Amerika Selatan adalah Copa Libertadores. Di Asia, Liga Champions Asia adalah turnamen tingkat klub terbesar. Sepak bola sudah dimainkan di Olimpiade sejak tahun 1900. (kecuali pada Olimpiade tahun 1932 di Los Angeles). Awalnya ini hanya untuk pemain-pemain amatir saja, namun sejak Olimpiade Los Angeles 1984 pemain profesional juga mulai ikut bermain, disertai peraturan yang mencegah negara-negara daripada memainkan tim terkuat mereka. Pada saat ini, turnamen Olimpiade untuk pria merupakan turnamen U-23 yang boleh ditamnbahi 3 pemain di atas umur. Akibatnya, turnamen ini tidak mempunyai kepentingan internasional dan prestise yang sama dengan Piala Dunia, atau bahkan dengan Euro, Copa America atau Piala Afrika. Sebaliknya, turnamen Olimpiade untuk wanita membawa prestise yang hampir sama seperti Piala Dunia Wanita FIFA; turnamen tersebut dimainkan oleh tim-tim internasional yang lengkap tanpa batasan umur. J.    Sepak bola di Indonesia Permainan sepak bola di Indonesia juga berkembang pesat. Ini ditandai dengan berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930 di Yogyakarta yang diketuai oleh Soeratin Sosrosoegondo. Untuk menghargai jasanya, mulai tahun 1966 diadakan kejuaraan sepak bola Piala Soeratin (Soeratin Cup) yakni kejuaraan sepak bola tingkat taruna remaja. Pada saat ini permainan sepak bola digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Nah bagaimana dengan makalah sepak bolanya? apakah anda merasa menemukan sesuai dengan yang  sahabat harapkan ? Oh ya untuk mendapatkan makalah yang bagus file wordnya  sahabat semua bisa mendownloadnya dibawah ini

Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/12/makalah-sepak-bola.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com

teknik heading sepakbola

Teknik Heading Dalam Sepak Bola Teknik Heading Dalam Sepak Bola - Atau biasa yang kita sebut kopen bola, nah teknik ini biasa di pakai oleh para pengegol sepak bola yang menghasilkan gol-gol yang cantik. Gol menggunakan heading kerap sekali jarang bisa di tangkap oleh penjaga gawang, karena memang dengan heading bola begitu tiba tiba menyerang, kita contohkan saja pada permainan sepak bola ketika terjadi tendangan sudut yang melambungkan bola keatas, nah disaat inilah heading mengegolkan bola. A.    Pengertian Heading Jika pelatih anda menyuruh anda untuk “Menggunakan kepala anda” yang dimaksudkan adalah kepala sesungguhnya. Sepak bola adalah satu-satunya permainan demana pemain menggunakan kepala mereka untuk menanduk bola. Pemain menggunakan Heading untuk mengoper bola ke rekannya, untuk mencetak gol dengan mengarahkan bola ke gawang mereka sendiri. Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan Heading adalah menanduk atau menyundul bola untuk mengoper/mencetak goll (Luxbacher, J.A, 2002). B.    Jenis-Jenis Heading Dalam permainan sepak bola kita kenal dengan istilah Heading. Heading ada dua macam yaitu Heading dengan lompatan atau jump Heading dan drive Heading. Jump Heading adalah meloncat ke atas untuk menanduk bola, sedangkan drive Heading adalah terjun ke bawah untuk menanduk bola (Luxbacher, J.A, 20021).   C.    Teknik Melakukan Jump Heading Menurut Luxbacher, J.A, (2002) untuk melakukan jump heading yang baik dan benar harus memperhatikan 3 tahap antara lain: 1.    Persiapan Luruskan bahu dengan bola yang datang Tekukkan lutut  Tahan berat badan pada bantalan telapak kaki Tarik tangan kebelakang Fokuskan perhatian pada bola 2.    Pelaksanaan  Melompat ke atas Melompat dengan kedua kaki  Angkat tangan ke atas  Melengkungkan badan  Tarik dagu ke dada  Leher tidak bergerak Sentakkan badan ke depan  Kontak bola dengan kening  Mata terbuka dan mulut tertutup 3.    Follow Through Gerakan kening pada saat kontak dengan bola Lanjutkan gerakan akhir dengan badan  Tangan direntangkan ke samping untuk menjaga keseimbangan Mendarat dengan halus di atas permukaan lapangan dengan kedua kaki. D.    Teknik Dasar-Dasar Menyundul (Heading) Bola Menguasai bola dengan menggunakan kepala sangatlah tidak mudah, karena itu berlatih sampai anda yakin dengan teknik sundulan anda. Hal utama yang perlu diingat adalah menjaga mata agar tetap terbuka dan menggunakan dahi, buka bagian atas kepala. Berikut penjelasan yeknik dasar menyundul (heading) bola (Hervy, 2003). Berdirilah dengan sejajar dengan bola, dengan satu kaki di depan kaki yang lain, tekuk lutut dan penggung agak condong ke belakang Saat bola datang mendekat, usahakan mata anda tetap terbuka. Tetap santai pada menit-menit terakhir. Sundullah bola dengan dahi jika anda menggunakan bagian kepala yang lain, maka akan terasa sakit. Doronglah bola menjauh sambil mengencangkan otot leher, sehingga kepala dapat mengarahkan bola tersebut kearah yang diinginkan.   E.    Macam-Macam Teknik Sundulan (Heading) Dalam Permainan Sepak Bola Menggunakan sundulan (heading) untuk menyerang atau untuk mencetak gol merupakan salah satu elmen yang paling mrngasikkan dalam permainan sepak bola. Hal ini sering berarti memamfaatkan peluang-peluang kecil, jadi anda harus berani mengambil resiko dan sungguh-sungguh menyambar atau menyundul bolanya. Ada beberapa macam tehnik sundulan (heading)  dalam permainan sepak bola (Harvey, 2003).   1.    Sundulan ke bawah Ketika menyundul bola ke gawang, anda harus menjaga bola agar tetap mengarah ke bawah untuk mempersulit penjaga gawang menghadangnya, supaya bola mengarah ke bawah saat menyundulnya, anda harus lebih tinggi dari bola untuk menyundul bagian atasnya, kemudian menandukkan kepala anda ke bawah dengan kencang saat menyentuhnya   2.    Sundulan sambil menjatuhkan diri Lakukan sundulan ini dengan kekuatan penuh sehingga jalannya bola lebih cepat dan sulit ditangkap. Jaga agar mata anda tetap tertuju pada bola, lalu jatuhkan diri ke depan, sambil membiarkan kaki terangkat dari tanah. Arahkan bola kekiri atau kekanan dengan memutar kepala sewaktu anda mengenai bola. Pada saat anda jatuh ke tanah cobalah untuk melemaskan tubuh agar tidak sakit   3.    Mengontrol sundulan Gunakan sundulan yang bertujuan untuk menahan bola untuk meredam jika anda ingin melakukan gerakan selanjutnya sendiri dan tidak ingin mengopernya. Jangan terlalu mencondongkan badan saat bola menghampiri, tetap santai pada saat menahan bola, jaga posisi anda saat menerima bola. Tekuk lutut dan condongkan sedikit punggung anda, dorong bola ke depan pelan-pelan sehingga bola jatuh dan mendarat tidak jauh dari kaki anda   F.    Jenis Latihan Menyundul (Heading) 1.    Latihan untuk dua orang pemain Permainan ini adalah latihan menyundul yang baik. Buat sebuah persegi empat yang lebarnya 6 m (20 kaki) dengan sebuah barisan pnanda ditengahnya. Bermainlah bersama seorang rekan yang berdiri berhadapan dengan anda, seorang pemain melemparkan sebuah bola kepada yang lain, yang menyundul kembali. Terus menyundul bola sampai jatuh ke tanah. Selain mencoba untuk mengalahkan lawan anda, coba agar memiliki cukup waktu untuk memulihkan tenaga (Miller, 2004)   2.    Latihan untuk tiga orang Ini adalah latihan untuk tiga orang pemain. Sebuah gawang dengan lebar 6 m (20 kaki) tempatkan sebuah tanda sejauh 15 m (49 kaki) di depannya. Salah satu pemain menjadi penjaga gawang. Seorang pemain. (F) berdiri pada posisi gawang, pemain lainnya. (A) berdiri di antara gawang dan tanda. A berlari memutari tanda sementara. F melemparkan bola kepadanya. A harus berlari cepat mengejar bola dan menyundulnya ke arah gawang. F harus mengubah-ubah ketinggian bola untuk A agar ia bias mencoba bermacam-macam sundulan yang berbeda. Para pemain bergantian setelah sepuluh kali sundulan (Harvey, 2003).   3.    Latihan untuk delapan orang pemain. Permainan ini untuk delapan orang pemain atau lebih. Bagi menjadi dua tim, tiap tim mempunyai gawang dan penjaga gawang sendiri. Setiap pemain lain menjaga seorang pemain dari tim lain. Untuk bermain anda harus mengikuti urutan “Melempar, menyundul dan menangkap” bahkan pada saat anda memotong jalan bola anda hanya boleh mencetak gol dengan sundulan (Harvey, 2003). Daftar Pustaka Harvey, Gill. 2003. Tehnik Mengoper dan Menembak. PT. Gapura Mitra Sejati Jakarta Kuxbacher, Joseph A. 2001. Sepak Bola. PT. Raja Grafindo Jakarta Miller, Jonathan. 2004. Pelatihan dan Kebugaran.  PT. Mitra Gapura Sejati Jakarta Kusyanto, Yanto. 1994. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.Ganeca Exact Bandung Teknik Heading Dalam Sepak Bola

Read more at: http://aadesanjaya.blogspot.com/2012/02/teknik-heading-dalam-sepak-bola.html
Copyright aadesanjaya.blogspot.com